Jay | initasik.com
Sorot

Hendak Konfirmasi, di Kantor Dirgantara Pilot School Tasik Hanya Ada Staf

initasik.com, sorot | Kantor Dirgantara Pilot School Tasik (DPST) di Jl. Merdeka, Tawang, Kota Tasikmalaya, sepi, Selasa, 23 Mei 2017. Pintu gerbang hanya terbuka sebagian. Di halaman parkir cuma ada satu unit mobil dan satu motor.

Di dalam pun tidak banyak orang. Hanya ada dua staf. Dua-duanya perempuan. “Ada yang bisa dibantu, Pak?” tanya salah seorang pegawai. Setelah dijelaskan maksud kedatangan initasik.com, pegawai tersebut minta maaf.

“Kalau untuk menanyakan itu harus ke pimpinan, Pak. Di sini saya staf,” imbuhnya. Saat ditanya apakah ia pernah mendengar soal kasus yang membelit DPST, ia menjawab hanya mendengar selentingan. Tidak tahu banyak. Menurutnya orang nomor satu di DPST sedang di Jakarta. Jarang ke Tasikmalaya. Hanya sewaktu-waktu.

Persoalan di DPST mengemuka setelah kantor pengacara M. Salahuddin Abdullah & Partners, Jakarta, melaporkan sekolah tersebut ke Bareskrim Mabes Polri, Senin, 22 Mei 2017. “Kami bersama beberapa orangtua siswa dan beberapa korban melaporkan Marsma (Purn) H. Wasito sebagai Direktur Utama PT. DAE ke Bareskrim Mabes Polri dengan tuduhan dugaan melakukan penipuan terhadap orangtua murid dan anak-anak mereka,” tutur Salahuddin dalam rilisnya.

Menurutnya, pada siswa DPST sudah hampir satu tahun tidak bisa lagi melanjutkan pendidikannya di sekolah tersebut dengan alasan kesulitan keuangan.  “Padahal, anak-anak didik ini sudah membayar sebagian besar uang sekolahnya. Tidak ada yang terlambat bayar. Bahkan ada yang telah lunas,” sebutnya.

Baca: Sekolah Dirgantara Pilot School Tasik Dilaporkan ke Bareskrim Polri

Ia menjelaskan, di antara siswa ada sudah membayar lunas dari kisaran biaya pendidikan seluruhnya kurang lebih Rp 770 juta per orang, dengan jangka waktu 18 bulan. Seharusnya sebagian dari mereka sudah ada yang tamat, tapi harus kandas di tengah jalan.

“Tidak dapat dibayangkan, bagaimana kecewanya anak-anak dan para orangtua mereka yang sudah berharap dan menyerahkan nasib pendidikan dan kariernya di DPST dengan mengeluarkan uang ratusan juta rupiah per anak,” paparnya seraya menyebutkan, karena kejadian tersebut, para orangtua mengalami kerugian hingga Rp 10 miliar lebih.

Baca: Masuk Dirgantara Pilot School Tasik Rp 700 Juta Lebih, Siswa Kandas di Tengah Jalan

Disampaikan, para orangtua sudah sering menemui Marsma (Pum) H. Wasito, dirut PT. Dirgamara Aviation Engineering, untuk menanyakan kelanjutan pendidikan di DPST. Namun, sampai sekarang tidak mendapatkan jawaban yang pasti. [Jay]