Ma Unah bersama Kakay | Jay/initasik.com
Humaniora

Hidup Sebatang Kara, Ma Unah Mengandalkan Bantuan Tetangga


initasik.com, humaniora | Tangan keriput Ma Unah, 80 tahun, bergetar saat akan mengambil gelas berisi air kopi, Jumat, 6 Oktober 2017 pagi. Untuk bisa mendapatkan satu seruput saja tidak mudah. Perlu usaha lebih. Tenaganya terlalu lemah.

Saat initasik.com bertandang ke rumahnya yang berukuran 3 x 3 meter, ia sedang makan roti cokelat plus kopi. Roti itu dimakan sedikit demi sedikit. Gigi atasnya yang tinggal satu membuatnya sulit mengunyah makanan. Sekadar untuk membuka mulutpun tampak kesulitan. Tak punya banyak tenaga. Orang-orang bilang tinggal kulit dan tulang. Begitulah Ma Unah.

Beruntung ia punya tetangga yang tidak pandang bulu. Meskipun tak ada kaitan saudara sama sekali, mereka telaten membantu dan merawatnya. Setiap hari diberi makan. Kopi dan roti yang dinikmatinya itu pemberian tetangga.

Bukan hanya makan, mandipun mengandalkan kebaikan tetangganya. Ada dua orang yang selalu rutin membantunya. Untuk keperluan makan dibantu Teti. Sedangkan memandikan tugasnya Kakay. Seminggu tiga kali ia rutin membersihkan badan Ma Unah.

Kakay memandikan Ma Unah persis ke anaknya yang masih kecil. Malah lebih dari itu. Ia harus membopongnya ke tempat mandi, samping rumah, karena Ma Unah sulit untuk berjalan. “Kasihan, pak, tak ada yang merawatnya,” ujar Kakay.

Ia menyebutkan, sebenarnya Ma Unah punya satu orang anak perempuan. Namanya Sariah. Usianya kisaran 50 tahun. Namun, ia jarang menengok ibunya yang sudah renta itu. Sudah hampir dua tahun tidak pernah berkunjung lagi. Padahal tinggalnya masih di Kota Tasikmalaya. Dekat Pasar Cikurubuk.

“Waktu Ma Unah masih bisa jualan, anaknya itu sering ke sini. Tapi hanya untuk minta uang dan mengambil barang-barang yang bisa dijual. Dulu Ma Unah punya perhiasan emas, sekarang tidak lagi. Diambil anaknya itu,” terang Kakay.

Menurutnya, sudah dua tahun ini Ma Unah sulit untuk bergerak. Jangankan jualan gorengan lagi, keluar rumah juga kesulitan. Dari kamar ke teras harus merangkak. Diwawancara initasik.com pun tidak menjawab. Hanya tersenyum.

Kakay menceritakan, sekitar sebelas tahun lalu, Ma Unah dan cucunya sering berjalan menyusuri rel. Mereka tak punya rumah. Malam tidur di emperan toko di Pasar Pancasila. Siang jalan-jalan tak jelas tujuan.

Hingga akhirnya ketua RT dan masyarakat Gunung Kabeuli 01/01, Kelurahan Sukanegara, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, sepakat membuatkannya rumah di atas tanah milik PJKA (PT KAI). Sejak saat itu Ma Unah bisa menetap dan jualan gorengan.

“Alhamdulillah suka ada yang memberi bantuan, seperti beras. Sama saya diberikan lagi ke Pak RT. Takut disangka macam-macam. Tapi kalau untuk makan sehari-harinya selalu ada,” ujar Teti. [Jay]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?