Humaniora

Hidup Sebatang Kara, Mak Sukmi Tinggal Bersama Lampu Teplok

initasik.com, humaniora | Tak mudah untuk bisa sampai ke rumah Mak Sukmi, warga Cikujang, Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya. Rumahnya jauh di seberang pesawahan. Aksesnya cukup sulit. Harus melewati gang kecil yang berkelok dengan kondisi jalan yang tidak rata.

Di sanalah Mak Iti, begitu ia akrab disapa, tinggal. Di rumah bilik bambu, perempuan berusia sekitar 75 tahun itu hidup sebatang kara. Sehari-hari bekerja sebagai buruh tani. Orang Sunda bilang gacong. Sekali turun ke sawah, ia dibayar tujuh rantang beras. “Eta teh tara unggal dinten, Cep,” ujarnya kepada initasik.com, Senin, 4 Desember 2017.

Ia mengaku tidak tiap hari turun ke sawah. Tergantung yang menyuruh. Kalau ada yang mengajak, baru kerja. Jika tidak, diam saja di rumah. Sendirian. Sepi. Jangankan televisi, radio bututpun tak ada. Kalaupun ada, percuma. Di rumahnya tidak ada listrik.

Ketika initasik.com memasuki rumahnya yang berukuran sekitar 4×7 meter, tak ada satupun barang elektronik. Hanya ada perabotan dapur, kasur kapuk lusuh, selembar batik PNS berwarna biru cerah, dan sebuah lampu teplok. Suaminya, Maja, telah meninggal dunia. Sementara kelima anaknya merantau dan ikut suaminya.

Kondisinya semakin memprihatinkan setelah daerahnya disapu angin puting beliung, Kamis, 30 November 2017, kemarin. Sebagian rumahnya hancur, diporak-porandakan angin kencang yang melanda beberapa daerah di Kabupaten Tasikmalaya.

Ia mengaku, tinggal di rumah itu sejak 1983. Usai Gunung Galunggung meletus. Sampai sekarang belum pernah teraliri listrik. Sementara rumah-rumah di dusun sebelah sudah masuk listrik. “Dugi ayeuna teu acan ngaraosan ningali tipi di bumi nyalira,” ucapnya.

Ketua RT 04 RW 03 Kampung Cikujang, Hapidin, membenarkan, di dusun yang bersebelahan dengan rumah Mak Iti sudah ada sekitar 12 rumah yang teraliri listrik gratis. “Kalau rumah Mak Iti baru akan diajukan untuk mendapatkan bantuan listrik gratis,” ujarnya.

Menurutnya, rumah Mak Iti akan segera diperbaiki menggunakan uang swadaya masyarakat. “Alhamdulillah, sekarang baru ada 20 batang bambu untuk membangun ulang kembali rumah Mak Iti. Kami masih menunggu bantuan lainnya. Hari ini kami akan mengusulkan bantuan ke kantor desa,” tuturnya. [Dan]

Komentari

komentar