Endang Adam (kiri) dan Jhon P. Lockwood (insert) | Foto: Buku Vulcanous: Global Perspectives”
Historia

Hikayat Jack dan Endang Adam Tembus Gunung Galunggung Saat Meletus

initasik.com, historia | Senin, 5 April 1982. Gunung Galunggung, Tasikmalaya, meletus. Letusan disertai dentuman keras, pijaran api, dan kilatan halilintar. Dalam situs web vsi.esdm.go.id, disebutkan, erupsi itu terjadi selama sembilan bulan.

Peristiwa dahsyat itu menarik perhatian ahli vulkanologi dari US Geological Survey (USGS) yang bertugas di Hawaiian Vulcano Observatory (HVO), Amerika Serikat, Jhon P. Lockwood. Pria yang akrab disapa Jack itu melibatkan diri dalam sebuah misi mitigasi bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk meminimalisir potensi jatuhnya korban jiwa yang disebabkan oleh erupsi Galunggung.

“Abu-abu terang menyerupai salju menutupi semua yang terlihat. Jalan sempit di depan pos pengamatan tersumbat oleh para pengungsi yang melarikan diri dengan kepala tertutup koran atau kantong plastik dan wajahnya ditutupi masker. Masing-masing membawa bundelan dan keranjang sambil menuntun anak-anak mereka. Ada yang menggendong bayi, ada juga yang menuntun kerbau. Satu-satunya suara yang konstan adalah doa-doa muslim, meratap dalam bahasa Arab di atas pengeras suara di sebuah kamp pengungsian. Guntur dan ledakan-ledakan tumpul dari arah kawah Galunggung yang berjarak 7 km menjadi lebih keras dan lebih sering, sementara abu turun lebih berat.”

Cerita di atas adalah sepenggal pengalaman yang ditulis Jack ketika bertugas menangani erupsi Galunggung 36 tahun silam. Kisahnya ia tuliskan secara terperinci dalam bab “A Grey volcano in eruption – Galunggung – 1982” yang menjadi bahasan di bagian pertama dalam bukunya berjudul “Vulcanous: Global Perspectives” yang diterbitkan oleh Wiley-Blackwell, USA, 2010.

Di USGS, Jack menjabat sebagai salah satu pimpinan yang membidangi masalah-masalah berkaitan dengan krisis gunung berapi dan bencana di seluruh dunia. Ia telah memantau beragam aktivitas letusan gunung berapi yang terjadi di berbagai negara, di antaranya seperti Gunung Gamalama (Indonesia), Nevado del Ruiz (Kolombia), Nyiragongo (Kongo), dan Gunung Pinatubo (Filipina). Melalui pemetaan gelologi, Jack juga telah berhasil memecahkan misteri letusan gunung prasejarah Mauna Loa, Hawaii.

Pemandangan perkampungan yang hancur akibat erupsi Gunung Galunggung, 1982 | Buku Vulcanous: Global Perspectives

Erupsi Galunggung menjadi sorotan dunia internasional. Banyak media internasional memberitakan dahsyatnya letusan Galunggung. Hal tersebut menuntun Jack untuk datang ke Tasikmalaya. Ia terbang dari Hawaii, bersama istrinya, Martha, pada pertengahan Juli 1982. Di tengah perjalanan antara Singapura dan Jakarta, Jack terkejut ketika melihat beberapa mesin sayap kanan pesawat yang ditumpanginya mati seketika akibat tersumbat oleh abu letusan Galunggung.

Insiden tersebut mirip dengan apa yang dialami oleh maskapai British Airways sebelumnya, saat hendak terbang ke Auckland-Selandia Baru yang terpaksa mendarat darurat di Jakarta akibat beberapa mesinnya mati tersumbat abu Galunggung. Dalam insiden itu, pesawat yang ditumpangi Jack akhirnya berhasil mendarat dengan selamat di Jakarta. Ia pun langsung bergegas untuk pergi ke Kantor PVMBG di Bandung.

Setibanya di Bandung, Jack disambut oleh direktur PVMBG, Dr. Sudradjat. Mengingat dampak ekonomi dan sosial akibat erupsi Galunggung semakin meningkat, Jack diminta untuk sesegera mungkin terjun membantu misi mitigasi di Galunggung. Tanpa pikir panjang, Jack pun berangkat ke Tasikmalaya pada malam harinya untuk bergabung dengan tim yang sudah terlebih dahulu bertugas di sana.

Tugas utama Jack di Galunggung adalah melakukan pemantauan untuk membantu menentukan langkah-langkah kongkret yang akan diambil berkaitan dengan aktivitas erupsi. Letusan Galunggung pada 1822 yang memakan 4.000 korban jiwa menjadi kenangan buruk yang belum dilupakan oleh masyarakat Tasikmalaya dan Jawa Barat.

Untuk itu, pemantauan sangat diperlukan untuk memprediksi kemungkinan-kemungkinan adanya letusan besar yang bisa mengancam nyawa masyarakat sekitar. Dengan begitu, pemerintah dapat menentukan titik evakuasi dengan tepat untuk meminimalisir terjadinya korban jiwa dan mempersiapkan segala jenis bantuan yang dibutuhkan.

Pemantauan aktivitas Galunggung dilakukan dengan menggunakan bantuan alat Pengukuran Jarak Elektronik/Electronic Distance Measurement (EDM). Ini menjadi momen paling menegangkan sekaligus menantang bagi para relawan.

Pasalnya, EDM mesti dipasang di beberapa titik terdekat di sekitar pusat letusan. Sementara posko relawan yang bertugas melakukan pemantauan berpusat di daerah Cikasasah. Peralatan EDM yang dibawa tim terdiri dari pemancar laser dan reflektor khusus.

Tim pemasang EDM yang dipimpin Jack terdiri dari lima orang, yaitu Maryanne Malingreaux (Belgia) dan Dedi Mulyadi (PVMBG) sebagai ahli vulkanologi; Martha, istri dari Jack yang mengatur urusan logistik; dan Endang Adam, warga lokal yang bertugas menjadi penunjuk jalan. Mereka berangkat menunaikan misinya itu pada 7 Agustus 1982.

Sebagai warga lokal, Endang Adam dianggap hapal medan. Petani dari Kampung Kedung itu ditunjuk oleh PVMBG untuk memandu tim menuju beberapa titik pemasangan EDM. Bermodal tekad ingin menyelamatkan orang banyak, Endang lawan rasa takutnya.

Ia bertutur, perjalanan penuh risiko itu dimulai dari Buni Asih, lalu menyusuri jalur Pasir Ipis, kemudian ke Kiara Koneng, kemudian masuk ke Gegeber, setelah itu turun ke Balong Saat (Gapura Cipanas), lalu naik ke Kawah Galunggung, mendekati pusat letusan.

Pemandangan yang tak wajar, bahkan cenderung mengerikan menyertai tim di sepanjang perjalanan. Hujan abu dan batu kerikil yang disebabkan oleh letusan-letusan kecil Galunggung, mengiringi perjalanan Jack dan kawan-kawan.

Tampak rumah-rumah hancur di tengah perkampungan yang tidak menunjukan adanya aktivitas kehidupan sama sekali, karena ditinggal pergi para penghuninya. Banyak tengkorak binatang peliharaan, seperti ayam dan kambing, tergeletak di antara porak-porandanya bangunan yang terkena material vulkanik. Pohon-pohon mati seperti terbakar. Ladang-ladang perkebunan dan pesawahan milik warga seluruhnya rusak, yang terlihat hanyalah hamparan abu tebal yang sangat luas.

Berdasar keterangan Endang Adam, saat hendak mendaki puncak, kepala Jack sempat terluka terkena duri tumbuh-tumbuhan yang sudah mati. Meskipun begitu, insiden tersebut tidak sedikit pun membuat Jack beserta timnya mengurungkan tugas mulyanya. Mereka tetap meneruskan perjalanan sampai tempat tujuan.

Di tengah perjalanan, saat memasuki salah satu desa yang hancur, tim bertemu dengan seorang lelaki bertelanjang kaki sedang melihat sawah dan puing-puing rumah miliknya. Tampak ekspresi kesedihan di raut wajahnya tatkala tim menghampirinya.

Lelaki itu lantas bercerita jika ia keberatan dengan permintaan pemerintah untuk meninggalkan kampung halamannya dan memulai kehidupan baru di Sumatera. Pada saat itu memang pemerintah sedang menyelenggarakan program transmigrasi bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Galunggung.

Ia pun kembali bertanya perihal kapan letusan akan berakhir. Namun tim tidak menjawab pertanyaan itu dan bergegas melanjutkan perjalan menuju jalur pendakian. Sebelum pergi, tim memperingati lelaki tersebut agar segera kembali ke tempat pengungsian, berhubung di tempatnya berada merupakan zona merah yang sangat berbahaya.

Saat hendak mendaki, sekitar 4 kilometer dari kawah, tim kembali dikejutkan oleh seorang pedagang yang menjajakan minuman bersoda di antara reruntuhan toko miliknya. Terlihat selusin botol minuman yang sengaja pedagang itu bawa ke tokonya setiap hari dengan harapan akan ada pembeli yang datang. Martha, anggota yang bertugas mengatur keperluan logistik, membeli 3 botol minuman dari pedagang tersebut untuk menambah pasokan perbekalan sebelum pergi menuju tempat pemasangan EDM.

Pemasangan EDM dilakukan di empat lokasi berbeda. Titik pertama di daerah Kiara Koneng. Titik kedua di daerah Gegeber (puncak), kemudian titik ketiga di sekitar kawah, tepatnya di daerah Cipanas Cijambe/Pasir Bentang, dan titik terakhir di Batu Karaton.

Selama proses pemasangan EDM, tim dituntut untuk teliti dalam memperhitungkan siklus erupsi yang sebelumnya telah diprediksi, karena apabila hitungannya meleset, maka taruhannya adalah nyawa mereka sendiri.

Di tengah pemasangan EDM, tiba-tiba Jack mendapat sinyal bahaya dari pusat informasi yang bermarkas di Cikasasah. Posisi Tim pada saat itu berada tepat di bibir kawah. Tim lalu diminta untuk segera turun meninggalkan lokasi karena gabus-gabus kebakaran mulai terjadi di bawah kawah yang menandai awal fase erupsi berikutnya. Namun, insting Jack berkata lain. Ia memiliki prediksi sendiri tentang siklus letusan. Jack pun tetap meneruskan pemasangan EDM dalam waktu singkat, lalu melakukan pembacaan EDM secepat mungkin.

Dalam catatan Jack, pembacaan yang menegangkan di bibir kawah Galunggung itu selesai pukul 10:10. Besamaan dengan itu, letusan dalam kawah cukup keras terjadi. Tampak awan menyerupai kembang kol keluar dari kawah, diikuti dengan muntahan lava dan semburan abu. Sesegera mungkin tim berkemas dan meninggalkan lokasi, karena aliran piroklastik kecil mulai mengalir di sekitar bibir kawah dan mengarah ke mereka. Akhirnya tim selamat dari ancaman kematian dan berhasil kembali ke Cisasah untuk melakukan pemantauan lebih lanjut.

EDM yang berhasil dipasang di beberapa titik tersebut mampu bertahan sampai akhir masa letusan. Melalui pembacaan EDM, informasi tentang deformasi aktivitas galunggung menjadi terpantau. Ini jelas sangat membantu para relawan untuk menentukan langkah-langkah strategis yang mesti diambil dalam menghadapi ancaman letusan, termasuk salah satunya menentukan titik evakuasi lanjutan apabila terjadi letusan besar. Maka, potensi jatuhnya korban jiwa akibat erupsi Galunggung dapat diminimalisir.

Upaya Jack dan kawan-kawan dalam misi mitigasi letusan Galunggung tahun 1982 patut mendapat apresiasi. Begitupun dengan perjuangan seorang Endang Adam, warga Kampung Kedung yang berani memandu perjalanan penuh risiko ini.

Mereka rela mempertaruhkan nyawanya menerabas jalur pendakian yang sewaktu-waktu dapat melukai, bahkan membunuh mereka. Tidak peduli terjangan hujan abu dan kerikil, semua itu semata-mata dilakukan demi menyelamatkan masyarakat dari erupsi Galunggung yang mengancam. [Irfal Mujaffar]