Komunitas

Honda Street Classic Tasikmalaya; Kumpulan Penyuka Motor Klasik Model Honda C70

initasik.com, komunitas | Bagi sebagian orang, menggunakan motor jadul alias zaman dulu bin kolot sudah menjadi gaya hidup. Memiliki kepuasan tersendiri kala mengendarainya. Begitupun mereka yang berhimpun di Honda Street Classic (HSC) Tasikmalaya.

Bukan sebatas hobi, tapi juga memiliki keinginan untuk memperkenalkan kepada kalangan muda bahwa motor jadul itu keren, ciamik, dan tidak kalah gaya dengan motor sekarang.

Diandi Dzikrulloh, ketua HSC, mengatakan, komunitas yang didirikan 2015 silam itu, bukan sekadar mewadahi mereka yang hobi pada kendaraan klasik, namun ada upaya untuk melestarikan kendaraan-kendaraan yang sudah mulai ditinggalkan banyak orang.

“Yang mendirikan itu ada lima orang. Berangkat dari kesenangan sama motor klasik model Honda C70, kan di Tasikmalaya belum ada, kebanyakan model CB. Pertama kali memakai tidak sedikit yang meledek. Tapi enjoy saja, toh sekarang banyak yang menyukainya,” kata Diandi, saat ditemui di sekretariatnya, di Kubangsari, Kelurahan Tamanjaya, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya.

Ia menilai, anak muda saat ini sudah mulai menggandrungi motor-motor jadul. Pada 2014-an, di Tasikmalaya tidak begitu banyak yang menggunakan kendaraan tersebut, berbeda dengan tahun-tahun sekarang. Terus bergeliat. Buktinya, kendaraan model ini terus mengalami kenaikan harga, yang awalnya hanya Rp 2 jutaan, sekarang bisa mencapai Rp 7 jutaan.

“Motor saya yang ini sudah ada yang menawar sampai Rp 7 jutaan. Tapi tidak saya kasih. Di daerah lain mulai ramai. Setiap daerah punya nama sendiri-sendiri. Di kita kan bektu, di Bandung bekjual (bebek baragajul), kalau daerah Jawa itu pitung,” ungkapnya.

Untuk perawatannya, kata dia, tidak begitu ribet. Asalkan teratur mengganti oli. “Dari kekuatan mesin juga sangat bagus. Asalkan bisa merawatnya. Untuk perawatan tidak membutuhkan biaya besar,” sebutnya.

Selain hobi, lanjut dia, juga sebagai ajang persaudaraan tempat menjalin kekeluargaan dengan mereka yang awalnya tidak kenal. Lewat komunitas, mereka bisa banyak teman dan tidak takut ketika bermain jauh. “Selain hanya kumpul-kumpul dan touring kita juga suka menggelar bakti sosial. Kemarin kita ke panti asuhan untuk berbagi. Banyak manfaatnya,” tandas Diandi. [Syaepul]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?