Salah satu tempat mangkal para wanita tunasusila di Kota Tasikmalaya | Eri/initasik.com
Peristiwa

Hotel Melati Dirazia, Kenapa Hotel Berbintang Tidak?

initasik.com, peristiwa | Razia terhadap praktik prostitusi di Kota Tasikmalaya kerap dilakukan kepolisian dan Satpol PP. Namun, targetnya hanya hotel-hotel melati. Sementara hotel berbintang tidak tersentuh. Kenapa?

Dimas, bukan nama sebenarnya, sopir taksi daring alias online, berbagi pengalamannya saat menjemput penumpang di salah satu hotel berbintang. Waktu itu sudah lewat pukul 12 malam. Sekitar pukul 2 dini hari. Ternyata, penumpang yang dijemputnya adalah seorang wanita muda berpenampilan menarik.

Dalam obrolannya dengan wanita itu, Dimas mengetahui kalau penumpangnya tersebut merupakan mahasiswi dan juga wanita panggilan. Ia biasa dipesan pria hidung belang untuk dijadikan teman tidur. Sekali chek in, ia dibayar Rp 2 juta.

Pengalaman yang diceritakan Dimas itu membuktikan kalau beberapa hotel berbintang tiga tidak lepas dari praktik prostitusi. Kendati begitu, tempat-tempat tersebut tidak pernah dijadikan target razia.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Kota Tasikmalaya, Budi Rachman, berdalih, tempat yang paling sering dijadikan praktik prostitusi adalah hotel-hotel melati.

Selain cenderung lebih mudah diakses, tarif sewa kamarnya jauh lebih murah ketimbang hotel berbintang. Kendati begitu, Budi menegaskan, pihaknya tak segan untuk melakukan operasi ke hotel berbintang apabila ada laporan sering dijadikan tempat seks atau bahkan pesta miras.

“Kita tak mau mengganggu kenyamanan para pengguna jasa yang justru tidak memiliki permasalahan. Kita sudah ada tim yang dikhususkan untuk mencari hotel yang suka dipake tempat gituan, dan kebanyakan di hotel melati. Makanya kita fokuskan operasi ke hotel-hotel melati. Tapi, kalau ada laporan yang mengindikasikan praktik tersebut dilakukan di hotel berbintang, kita tak akan segan untuk melakukan operasi,” paparnya, Jumat, 3 Agustus 2018.

Ia mengaku sudah membuat tim khusus untuk menangani penyakit masyarakat, termasuk PSK. Pihaknya telah berkoordinasi dengan intansi-intansi terkait lainnya, seperti Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, dan Badan Narkotika Nasional.

“Untuk mengatasi hal itu, tidak bisa dilakukan oleh satu OPD saja. Apalagi kami, Satpol PP bukan untuk pembinaan. Kami merupakan garda terdepan untuk melakukan penindakan,” ucapnya.

Dihubungi via pesan singkat, Kabag Ops Polres Tasikmalaya Kota, Kompol Gandi Jukardi, tidak memberikan jawaban saat ditanya terkait hotel-hotel melati yang sering dijadikan target operasi, sementara hotel berbintang tidak. [Eri]