Peristiwa

Hukum Mati Penjahat Narkotika

Kota Tasik | Badan Narkotika Nasional (BNN) sepakat dengan hukuman mati bagi para penjahat narkotika. Langkah itu merupakan hukuman yang konstitusional dan tidak bertentangan dengan hak asasi manusia.

“Hukuman mati kepada penjahat narkotika harus tetap ditegakkan dalam rangka menyelamatkan dan melindungi rakyat Indonesia dari ancaman narkotika,” tandas Kepala BNN Anang Iskandar dalam sambutannya yang dibacakan Ketua BNK Kota Tasikmalaya, Dede Sudrajat, dalam peringatan Hari Antinarkotika Internasional di Gedung Serba Guna Bale Kota Tasikmalaya, Kamis, 5 November 2015.

Selain itu, sambung Anang, kepada para penjahat narkotika harus dilakukan perampasan aset yang terkait dengan hasil tindakan kejahatan narkotika. Menurutnya, penyalahgunaan narkotika di Indonesia telah memasuki fase darurat, dan itu merupakan ancaman faktual yang masih dilihat sebelah mata.

Ia mengatakan, dalam menangani penyalah guna dan pecandu narkotika tidak ada jalan lain selain melalui upaya pemulihan atau rehabilitasi. Sayangnya, fasilitas rehabilitasi ketergantungan narkotika yang ada saat ini hanya mampu memberikan pelayanan kepada 18 ribu orang. Padahal, saat ini diperkirakan terdapat lebih dari 4 juta penduduk yang menjadi penyalah guna narkotika.

“Keterbatasan layanan rehabilitasi ketergantungan narkotika ini menuntut semua pihak, baik pemerintah, swasta, dan masyarakat untuk turut berpartisipasi menyediakan layanan rehabilitasi ketergantungan narkotika,” paparnya.

Sementara itu, Kasat Narkoba Polres Tasikmalaya Kota, Erustiana, menyebutkan, tahun ini pihaknya telah mengungkap 47 kasus penyalahgunaan narkoba dan menetapkan 69 tersangka. “Kos-kosan dan tempat kerja,” jawabnya saat ditanya tempat yang paling sering digunakan untuk mengonsumsi narkoba. initasik.com|shan

Komentari

komentar