Peristiwa

Ia Menyebutnya Badai Korupsi

Kota Tasik | Kepala Perwakilan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Jawa Barat, Hamonangan Simarmata, mengatakan, praktik korupsi di republik ini semakin tumbuh subur. Ia menyebutnya, badai korupsi masih menerpa Indonesia. “Sedih kita melihat kondisi sekarang,” tandasnya saat memberikan materi dalam sosialisasi akrual basis PP 71/2010 di aula bale Kota Tasikmalaya, Jumat, 12 Desember 2014.

Menurutnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dibentuk lantaran kepolisian dan kejaksaan waktu itu dinilai kurang berperan. Tapi, setelah ada lembaga antisuap itu korupsi bukannya berkurang, malah sebaliknya. Indeks persepsi korupsi (IPK) jauh dari target. Di 2013, IPK Indonesia hanya 3,2. Tahun ini hanya 3,4. Padahal targetnya 5.

“Kita jauh dengan negara lain. Indonesia termasuk negara terkorup di dunia. Rankingnya 107 dari 175 negara yang disurvei. Makin banyak yang ditangkap, ternyata tidak mengurangi kejahatan korupsi. Strateginya diubah. Bukan hanya penindakan, tapi dengan cara pencegahan,” paparnya.

Ia menjelaskan, korupsi bukan melulu penyuapan, tapi dalam pengadaan barang dan jasa, perizinan, serta penyalahgunaan anggaran. Dari kasus korupsi yang ditangani KPK, 60 persennya dilakukan kepala daerah. Dan, 80 persen masalahnya terlilit dalam pengadaan barang.

“Temuan BPK di tahun 2012 ada 12.947 kasus dengan kerugian negara mencapai Rp 9,72 trilun. Sedangkan di 2013 ada 3.969 kasus dengan nominal Rp 56 triliun. Itu baru di semester pertama. Dan tahun ini jumlahnya terus meningkat. Mayoritas karena lemahnya sistem pengawasan internal dan memudarnya kejujuran,” katanya. initasik.com|ashani

Komentari

komentar