Jay | initasik.com
Sosok

Idi S. Hidayat Lebih Nyaman Jalani Hidup Setelah Pensiun

initasik.com, sosok | Awal Mei 2017 kemarin menjadi akhir perjalanan karier Idi S. Hidayat sebagai Aparatur Sipil Negara alias PNS. Lebih dari setengah perjalanan hidupnya, 32 tahun, dihabiskan di pemerintahan. Jadi abdi negara. Amanah terakhir yang diembannya adalah Sekretaris Daerah Kota Tasikmalaya.

Mantan Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tasikmalaya, 1976, itu mengaku, dibanding saat jadi PNS, sekarang lebih nyaman menjalani hidup. Enjoy. Waktu bersama keluarga leluasa. Pikiran pun tidak dijejali berbagai persoalan.

“Saat masih jadi PNS, waktu lebih banyak di luar rumah. Pulang ke rumah tidak tentu. Sering sampai larut malam. Besoknya dihadapkan lagi pada persoalan lain yang kadang tidak diduga. Sekarang mah nikmat. Banyak waktu bersama keluarga. Bisa mengurus yayasan dan usaha lain. Main ke kolam ikan atau lihat peternakan ayam. Nikmat,” tutur Idi kepada initasik.com, belum lama ini.

Salah satu garapan yang sedang fokus dijalaninya adalah mengembangkan sekolah menengah kesehatan di daerah Burujul, Kota Tasikmalaya. Di usianya yang sudah menginjak kepala enam, ia mengatakan, ingin lebih bermanfaat bagi masyarakat. “Anak-anak kita harus berpendidikan agar mereka punya keinginan dan motivasi untuk maju dan berkembang,” tandasnya.

Itu dialaminya sendiri. Lahir dan besar di tengah keluarga pas-pasan mendorong Idi untuk meraih kesuksesan. Kendati orangtuanya guru, namun anaknya delapan. Praktis banyak kebutuhan. Banyak pula utangnya.

“Kalau tanggal gajian itu bukan bawa uang, tapi bawa bon. Dulu kami memang sengsara. Saya pernah diberi beras 8 kilogram untuk satu bulan. Makanya sejak lulus SLTA, saya tidak mau hanya bekerja, tapi ingin melanjutkan pendidikan. Minimal S1. Alhamdulillah bisa lulus, meski sambil bekerja,” beber suami Atin Heryantini dan ayah tiga anak itu.

Disinggung soal aktivitasnya saat aktif di HMI, Idi menceritakan, dirinya sering ditangkap aparat dan harus mendekam di tahanan Kodim, karena dianggap melabrak aturan dalam berkegiatan. Tak berizin.

“Dulu itu memang susah dan ketat. Harus ada izin ini dan itu. Saya sering masuk- keluar Kodim gara-gara mengadakan acara. Sekarang mah beda. Sayangnya, pergerakan mahasiwa dan organisasi lainnya sekarang ini kebanyakannya pragmatis. Selama jadi PNS, saya sudah berhubungan dengan banyak organisasi, ujung-ujungnya selalu uang. Tidak ada niatan berkorban untuk membangun.  Hampir semua begitu,” sesalnya. [Jay]

Komentari

komentar

Komentari

Komentari