Dok. Historia Soekapoera
Inspirasi

Iding Soemita, Buruh Asal Tasikmalaya yang Berpengaruh di Suriname, Amerika Selatan

initasik.com, inspirasi | Nama Iding Soemita memang tidak setenar tokoh lain di republik ini, khususnya di tatar Priangan. Ia “hanya” seorang buruh. Tak heran, pria kelahiran Tasikmalaya, 3 April 1908, itu namanya jarang disebut-sebut sebagai seseorang yang hebat. Dalam buku-buku sejarah lokal pun nyaris tidak ada.

Padahal, ia seorang tokoh yang berpengaruh di Suriname, Amerika Selatan, berbatasan dengan Brazilia. Dia bisa menggerakkan kaum buruh untuk melawan kesewenang-wenangan kolonial Belanda.

Dalam majalah Historia Soekapoera, vol. 1, no. 2, 2013, dipaparkan, pada 25 Oktober 1925, Soemita menginjakkan kakinya di Suriname, daerah jajahan Belanda, untuk menjadi buruh. Kuli kontrak.

Sejak 1897 sampai 1939, tercatat ada 284 warga Tasikmalaya yang menjadi buruh di sana. Mereka berasal dari berbagai distrik (kawadanaan), seperti Singaparna, Ciawi, Manonjaya, Panjalu, Taraju, Karangnunggal, Indihiang, Cikatomas dan lainnya. Iding berasal dari Bengkok, distrik Cikatomas.

Para kuli kontrak itu dipekerjakan di lahan-lahan perkebunan tebu, coklat, kopi, dan tambang bauxit dengan masa kontrak selama lima tahun. Jika kontrak telah selesai, mereka mendapatkan hak untuk kembali ke tanah air. Biaya pulang ditanggung Belanda.

Meski berada di tengah dominasi kuli kontrak asal Jawa, pekerja dari Tasikmalaya menorehkan catatan gemilang. Iding Soemita telah menjadi sosok yang diperhitungkan dalam perjuangan politik masyarakat Jawa, sekaligus perekat persatuan.

Dengan modal pondasi agama dan keberanian, Soemita menggugah kesadaran bangsa Jawa di Suriname untuk bangkit dari keterpurukan. Di tengah kehidupan para buruh perkebunan yang memprihatinkan, Soemita mengusulkan kepada para petani untuk menghimpun dana pemakaman secara gotong royong. Itu dimaksudkan agar orang-orang Jawa yang meninggal dunia dapat dikuburkan secara layak. Gagasan itu disepakati.

Kepedulian dan keberpihakan Soemita kepada sesamanya semakin mengakar. Ia terus membangkitkan kesadaran bangsa Jawa untuk saling gotong royong dan memperkuat kebersamaan.

Saat usianya 25 tahun, 1933, citra Iding Soemita sebagai pemimpin pergerakan bangsa Jawa Suriname semakin kokoh. Ia pun menjadi pemimpin politik yang paling disegani ketika menyuarakan gerakan pulang ke tanah air yang dikenal Moelih n’ Djawa.

Gerakan itu dilatarbelakangi oleh ingkar janjinya pemerintah kolonial yang akan memulangkan para buruh setelah masa kontrak selesai.

Puncaknya terjadi setelah Indonesia merdeka. Pada 1946, Iding Soemita mendirikan perhimpunan pergerakan bernama Persatoean Indonesia (PI). Salah satu agendanya adalah menuntut pemulangan para buruh ke tanah air.

Tiga tahun kemudian, 1949, PI berganti nama jadi Kaoem Tani Persatoean Indonesia (KTPI). Nama KTPI itu dipilih Soemita atas dasar keyakinan ideologisnya; Kur’an Tuntunan Pustaka Islam. Ia yakin, nama itu mewakili mayoritas keimanan orang Jawa.

Pada pemilihan untuk parlemen pertama, pemilu 1949 di distrik Commewijne, Soemita mendapatkan 2.325 suara. Sementara, dari 21 kursi parlemen, KTPI meraih dua kursi. Dia melenggang ke Parlemen. Soemita sering ikut serta dalam perundingan dengan Belanda ihwal kemerdekaan Suriname. Perjuangan yang panjang dan melelahkan. Lantaran Suriname termasuk yang terlambat memperoleh kedaulatan, Soemita termasuk yang turut menghayati perjalanan eksistensial Suriname menuju kemerdekaan.

Tanda-tanda yang menggembirakan sudah mulai dirasakan, saat Pemerintah Belanda bersama beberapa wakil dari Suriname menandatangani sebuah memorandum yang isinya rencana pengakhiran penjajahan, 15 Desember 1954. Soemita termasuk yang turut berjuang bersama tokoh pergerakan lain. Ia melakukan penggunaan strategis atas posisi penengah di mana partainya masuk setiap pemerintahan koalisi.

Pada 1960, Iding Soemita mengundurkan diri dari politik. Kepemimpinan partai dialihkan kepada puteranya Willy Soemita. Kembang harapan semakin bermekaran, saat digelar Konferensi Meja Bundar di 1961. Para wakil dari Suriname duduk bersama dipimpin Perdana Menteri Johan Adolf Pengel, menuntut dibentuknya sebuah pemerintahan sendiri.

Dorongan itu semakin kuat, karena partai-partai yang sudah dibentuk menyuarakan tuntutan yang senada. Ketika itu tampuk kepemimpinan KTPI sudah berada di tangan putra Iding, Willy Soemita. Iding mendukung kepemimpinan Willy, demi mengibarkan partai berbasis suku Jawa-Suriname itu.

Desakan Suriname merdeka ditanggapi dengan serius. Dibuktikan dengan digelarnya konferensi di Belanda pada tahun 1970. Pembahasan yang mengerucut pada persiapan pelepasan Suriname, sekaligus menyusun kabinet yang mewakili partai-partai. Hasilnya, sangat menggembirakan. Pada 25 November 1975, Suriname berdaulat. [Jay]

Komentari

komentar