Dok. Historia Soekapoera
Historia

Iding Soemita; Buruh dari Tasikmalaya Pimpin Pergerakan di Amerika Selatan

initasik.com, historia | Tak banyak yang tahu tentang sosok yang satu ini. Namanya Iding Soemita. Pria kelahiran Cikatomas Tasikmalaya, 3 April 1908, ini tampil menjadi simbol perekat persatuan puluhan ribu buruh asal Jawa di Suriname.

Dalam jurnal Historia Soekapoera, 2013, dijelaskan, Suriname merupakan salah satu koloni Belanda di Amerika Selatan yang menghasilkan beragam hasil perkebunan dan pertambangan. Pada 1890, Pemerintah Hindia-Belanda mengirim orang-orang dari Pulau Jawa untuk dipekerjakan menjadi buruh kontrak di sana.

Mayoritas buruh yang dikirim ke Suriname berasal dari desa-desa yang tersebar di seluruh pelosok Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sementara buruh asal Jawa Barat hanya menempati sebagian kecilnya. Di antara minoritas suku Sunda yang dikirim ke Suriname itu, di isi oleh buruh asal Tasikmalaya.

Gelombang migrasi buruh asal Tasikmalaya ke Suriname terjadi secara bertahap dari tahun 1897 sampai 1939. Mereka berasal dari berbagai distrik, seperti Tasikmalaya, Singaparna, Banjar, Ciawi, Manonjaya, Panjalu, Taraju, Karangnunggal, Kawali, Indihiang, Rancah, Cikatomas, dan Pangandaran. Buruh asal Tasikmalaya yang dikirim ke Suriname berjumlah 284 orang dari total 32.956 buruh asal Pulau Jawa, terdiri dari 114 laki-laki dan 70 perempuan, termasuk anak-anak.

Mereka dipekerjakan di lahan-lahan perkebunan tebu, kakau (coklat), kopi dan Tambang Bauxit. Bersama imigran Sunda lainnya, buruh asal Tasikmalaya meleburkan diri dalam budaya Jawa yang menjadi latar belakang budaya mayoritas. Meski berada di tengah dominasi Jawa, buruh asal Tasikmalaya telah menoreh karya sejarah yang berharga bagi bangsa Jawa di Suriname.

Adalah Iding Soemita, sosok kharismatik yang sukses mempelopori perjuangan hak-hak politik bangsa Jawa di Suriname.

Iding Soemita tiba di Suriname pada 25 Oktober 1925 dan bekerja sebagai perawat di perkebunan gula Marienburg. Nama Iding Soemita menjulang di antara puluhan ribu buruh asal Jawa di Suriname. iprahnya dimulai saat pria asal Desa Bengkok, Cikatomas ini mengusulkan kepada rekan-rekannya untuk menghimpun dana pemakaman secara gotong royong.

Dana pemakaman itu nantinya akan digunakan untuk orang-orang Jawa yang meninggal agar dapat dikuburkan secara layak dan terhormat. Usulan Iding Soemita disepakati seluruh buruh kontrak Jawa di Malbork.

Keberhasilan Iding Soemita dalam mengorganisir dana pemakaman rupanya berkembang menjadi sebuah wacana progresif mengenai semangat pergerakan. Ia berhasil membangkitkan kesadaran bangsa Jawa Suriname, mengenai gotong royong, toleransi, dan kebersamaan.

Sebagai sosok antikolonial, Soemita tampil terdepan mendampingi para pekerja yang terkena sanksi pidana akibat bolos kerja atau perselisihan perburuhan. Iding Soemita berangsur menjadi pemimpin politik yang disegani ketika menyuarakan gerakan pulang ke tanah air yang dikenal Moelih n’ Djawa pada 1933.

Ketidakkonsistenan pemerintah kolonial tentang pemulangan kuli kontrak ke Jawa setelah kontraknya habis 5 tahun ditengarai menjadi alasan munculnya gerakan ini. Puncaknya terjadi pada tahun 1946, Soemita bersama rekan sesesama buruhnya mendirikan perhimpunan pergerakan bernama Persatuan Indonesia (PI).

Agenda politik PI adalah menuntut kepada pemerintah Belanda agar segera memulangkan buruh kontrak Jawa Suriname ke tanah air atau lebih dikenal sebagai politik “Nagih Djangjie”. Untuk menopang perjuangan PI, Iding Soemita membentuk kelompok militan bernama “Benteng Hitam” dan Pagar Rakyat Indonesia Suriname (PRIS).

Pada 1948, Iding Soemita mengubah nama PI menjadi Kaoem Tani Persatoean Indonesia (KTPI) dan mendeklarasikannya sebagai partai politik. KTPI tampil menjadi partai politik yang mewadahi perjuangan politik bangsa Jawa di Suriname.

KTPI turut berpartisipasi dalam gelaran Pemilu Suriname tahun 1949 di distrik Commewijne. Dalam kontestasi tersebut, Iding Soemita berhasil mendapatkan jatah kursi parlemen dengan perolehan 2.325 suara. Di Parlemen, Iding Soemita aktif terlibat dalam setiap perundingan dengan Belanda terkait kemerdekaan Suriname. [Irfal Mujaffar]