Foto: Ibni (sebelah kanan, jongkok) foto bersama lima rekannya dan salah seorang pembina.
Sosok

Ikut Lomba Sains di Korea, Dihya Dapat Pengalaman Luar Biasa

Kota Tasik | Usia anak yang satu ini masih sangat belia. Baru 11 tahun. Namun, kematangan mentalnya tak kalah sama orang dewasa. Cara dia mengatasi permasalahan yang datang tiba-tiba, patut diacungi jempol.
Dia adalah Muhammad Dihya Aby Abdi Manaf, putra Indra Somantri dan Pipit Indah Purwanti. Siswa SDN Citapen Kota Tasikmalaya itu baru saja pulang dari Daejeon, Korea Selatan, mengikuti lomba sains dan seni internasional, World Creativity Festival (WCF) 2016.
Bersama lima anak Indonesia lainnya, Dihya berada di Korea sejak 20 Oktober s.d. 24 Oktober 2016. Mereka bertanding dengan siswa lainnya dari berbagai negara, seperti Hongkong, Arab Saudi, Cina, Taiwan, Korea dan lainnya.
“Setiap peserta diberi waktu presentasi delapan menit, dan tanya-jawab dua menit,” ujar Ibni, panggilan akrab Dihya, saat ditemui di rumahnya, Perum Kota Baru, Kota Tasikmalaya, Selasa, 25 Oktober 2016.
Di hadapan dewan juri dan peserta lain dari berbagai negara, Ibni tampil percaya diri. Fokus. Presentasinya mengalir. Menguasai materi. Tak heran, usai memaparkan makalahnya, hadirin bertepuk tangan. Banyak yang memujinya. Ibni senang. “Presentasi itu salah satu pengalaman paling berharga,” akunya.
Padahal, sebelum presentasi ia dihadapkan pada kenyataan yang sama sekali tidak diduganya. Hari itu, Sabtu, 22 Oktober 2016, ia tak menyangka dapat giliran presentasi. Kata pembina, jadwal  presentasi besoknya; Minggu.
Ternyata tidak. Sampai di tempat pertandingan, ia harus presentasi. Kaget. Propertinya tidak dibawa. Barang-barang penunjang presentasinya disimpan di hotel. Diambil sendiri tidak mungkin. Pembinanya kurang proaktif. Akhirnya ia presentasi tanpa properti tong sampah dan perangkat lainnya yang sudah disiapkan dari Tasik.
Di waktu yang mepet, ia harus cari solusi. Dipilihlah kantong keresek. Nareswari Darline, siswa asal Yogyakarta yang berperan sebagai peraga, tampil di atas panggung memakai keresek saat Ibni menjelaskan soal makalah berjudul “D’compose Agent”.
Dalam perlombaan itu ia mengetengahkan ide membuat alat pengubah sampah organik menjadi pupuk kompos. Mesin pembuat kompos itu diberi nama “The Trash Eater”. Itu semacam tong dekomposter. Gunanya untuk mengumpulkan sampah organik. Setelah sampah terkumpul, lalu diolah, dan yang tertinggal adalah pupuk. Pupuk itulah, plus bioaktivor yang seharunya diperlihatkan kepada dewan juri dan audiens saat presentasi.
“Bagusnya waktu itu Ibni tidak panik. Ia berusaha tenang. Beda dengan temannya yang ketinggalan koper berisi properti dan pakaian gantinya di Bandara Jakarta. Ia nangis. Ibni yang berusaha menenangkan dia. Saya tahu itu dari mamahnya anak itu,” tutur Pipit Indah Purwanti.
Kendati sudah berusaha maksimal, Ibni tidak mendapat medali. Penyebabnya ya itu, ia tampil tanpa properti yang semestinya, meski presentasinya direspons tepuk tangan yang meriah. “Sedih banget. Tapi habis itu mah tegar saja,” tandas Ibni.
Ia bersyukur bisa ikut WCF, karena mendapat banyak pelajaran dan pengalaman. Teman-teman barunya pun bertambah. Ditanya hikmah apa yang bisa dipetik dari tertinggalnya properti di hotel, ia menjawab mantap, “Kita tidak boleh panik dalam kondisi apapun. Harus tenang dalam setiap situasi.”

Salah satu pengalaman yang cukup membuatnya kerepotan adalah soal makanan. Ia tidak bisa menyantap semua makanan, karena ragu dengan kehalalannya. Alhasil, selama di Korea, ia lebih banyak makan ayam dan rumput laut yang dikeringkan. initasik.com|shan

Foto: Ibni (sebelah kanan, jongkok) foto bersama lima rekannya dan salah seorang pembina.

Komentari

komentar

Komentari

Komentari