Dok. Pribadi
Inspirasi

Ilam Maolani dan Produktivitasnya Menulis Buku di Sela Jadi Guru

initasik.com, inspirasi | Ilam Maolani, guru SMPN 19 Kota Tasikmalaya, merupakan satu dari sedikit guru yang produktif dalam menulis. Sampai sekarang ia sudah menulis sebelas buku dengan berbagai tema. Belum lagi tulisan artikel yang dimuat di media-media cetak. Buku terbarunya berjudul Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat.

“Sebenarnya setiap orang punya waktu yang sama. Sehari semalam 24 jam. Yang membedakannya adalah dalam hal memanfaatkan atau memberdayakan waktu, apakah digunakan untuk hal yang baik atau buruk?” tuturnya kepada initasik.com, Ahad, 26 November 2017.

Ia memilih memanfaatkan waktu untuk hal positif. Salah satunya menulis buku. Menurutnya, tulisan di buku itu semacam warisan “keabadian” buat anak cucu, lebih luasnya untuk orang lain.

“Sangat banyak para ulama yang tidak mewariskan harta kepada generasi berikutnya, tapi mereka mewariskan ilmu melalui tulisan di buku. Ada ungkapan ‘Bring supply when you go, bring charity when you die’. Bawalah bekal ketika Anda pergi, bawalah amal ketika Anda mati. Dengan menulis, semoga itu menjadi amal saleh sebagai bekal kelak menuju akhirat,” papar putra kelima dari pasangan Iri Rahmana dan Entin Rohaetin itu.

Kegiatannya dalam mengajar tak membuatnya abai membagi waktu. Tak jarang, ia mendapat inspirasi saat berada di dalam kelas. Problematika yang terjadi sebelum, ketika, dan setelah mengajar terkadang mengilhami munculnya sebuah tulisan.

Motivasi lain yang membuatnya produktif dalam menulis adalah keterangan dalam Quran Surat Al’Asr. Demi waktu. “Saya ingin, dengan menulis buku menjadi salah satu ciri orang yang termasuk beriman dan beramal saleh, serta saling mewasiatkan dalam kebenaran dan kesabaran,” tandasnya.

Suami Enur Nurjanah dan ayah Syabin Sajad itu mengaku tidak mempunyai waktu khusus dalam menulis. Kebiasaannya itu sudah dimulai sejak 2005. Awalnya menulis di blog, kemudian dibukukan.

Ia memandang, sebenarnya banyak guru yang punya kemampuan dalam menulis. Namun, seringkali itu terbentur dengan kemauan. Padahal, bagi guru, menginspirasi peserta didik itu bukan hanya melalui mengajar di kelas, tapi juga dapat dilakukan dengan menulis.

Menurutnya, agar para guru bisa menulis dan menuangkannya dalam buku, hal pertama yang harus dilakukan adalah sadari bahwa menulis itu bagian dari cara mendidik anak. Kemudian tanamkan kemauan yang keras untuk bisa menulis, jangan malu untuk bertanya dan saling berdiskusi tentang dunia kepenulisan.

“Jangan pernah menyerah untuk latihan menulis. Sempatkan waktu untuk mengikuti pelatihan menulis dan luangkan waktu untuk sering membaca. Menulis dan membaca itu ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Sadari dan hayati bahwa lahan dakwah bagi guru itu sangat luas. Salah satunya dengan menulis,” bebernya.

Selain itu, yakini bahwa dengan menulis peserta didik akan lebih menyenangi pembelajaran, menghormati, dan menghargai guru. “Ini yang sangat penting; selalu berdoa pada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk meminta kemampuan diri dalam menulis,” sarannya. [Jay]