Jay | initasik.com
Ekbis

Inflasi Dipengaruhi Juga Pencabutan Subsidi Listrik

initasik.com, ekbis | Keputusan pemerintah pusat mencabut subsidi listrik memengaruhi tingkat inflasi di Kota Tasikmalaya dan daerah-daerah di Priangan Timur lainnya. Per April 2017, angkanya sudah melebihi batas wajar.

Maksimalnya, kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya, Wahyu Purnama, inflasi ada di angka 2 persen. “Pada April kemarin inflasinya 3,95 persen. Itu salah satunya dipengaruhi (pencabutan subsidi listrik yang menyebabkan) kenaikan tarif listrik,” sebutnya usai memimpin High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah se-Priangan Timur, di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya, Selasa, 16 Mei 2017.

Untuk level Jawa Barat, sambungnya, inflasinya 3,92. Tingkat nasional lebih tinggi lagi, yaitu 4,12 persen. “Sederhananya, inflasi itu kenaikan harga-harga umum pada satu masa tertentu secara menyeluruh, bukan satu barang,” terang Wahyu.

Menjelang Ramadan dan lebaran, diyakini inflasi bakal lebih tinggi lagi. Untuk itu, Tim Pengendalian Inflasi Daerah se-Priangan Timur sudah merumuskan 13 langkah yang menjadi kesepakatan aksi bersama dalam menstabilkan pasokan dan harga kebutuhan pokok masyarakat.

Salah satu strategi aksinya adalah meningkatkan intensitas dan jangkauan kegiatan operasi pasar murah untuk komoditas pokok, seperti beras, daging sapi, daging ayam, telur, gula, minyak goreng dan lain-lain.

Bukan hanya instansi terkait, seperti Diskoperindag, Dinas Pertanian, Dinas Peternakan, yang akan terlibat langsung dalam aksi tersebut. Bulog, Polres, Satpol PP, dan Pertamina juga akan turut serta. “Perlu upaya bersama-sama untuk mengendalikan inflasi,” tandas Wahyu.

Selain operasi pasar murah, akan digelar pula operasi pasar murah rakyat yang berlaku untuk semua lapisan masyarakat. “Nanti juga di pasar murah itu ada gas elpiji 3 kg, karena sampai saat ini harganya masih lebih mahal. Sampai Rp 25 ribu. Normalnya sekitar Rp 17.000,” sebutnya. [Jay]