Bungsu | initasik.com
Peristiwa

Intimidasi Pedagang; Gaya Otoriter Pengelola Tasik Mambo Kuliner


initasik.com, peristiwa | Baru berjalan kurang dari enam bulan, Tasik Mambo Kuliner Nite menyembulkan aroma tak sedap. Pengelola pusat jajan di Jalan Mayor Utarya, Kota Tasikmalaya, setiap Sabtu malam, itu disebut-sebut otoriter.

Mereka seenaknya menaikkan biaya pendaftaran dan iuran mingguan. Semula, biaya pendaftaran Rp 250 ribu untuk satu tahun. Namun, di tengah perjalanan, pengurus Tasik Mambo Kuliner Nite mengubahnya sepihak. Biaya pendaftaran itu bukan untuk satu tahun, tapi enam bulan. Nominalnya pun bengkak jadi Rp 460 ribu.

Bayaran tiap dagang juga naik. Dari Rp 30 ribu jadi Rp 40 ribu. “Itu bayarnya disatukalikan. Totalnya jadi Rp 1,5 juta. Tentu saja kita keberatan. Harusnya Mambo Kuliner ini membantu para pedagang kecil, tapi ini malah mencekik,” ujar salah seorang pedagang Tasik Mambo Kuliner Nite yang minta namanya tidak ditulis.

Ia menilai, pengurus Tasik Mambo Kuliner Nite telah bersikap keterlaluan. Menaikkan biaya seenaknya. Padahal mereka juga sama-sama pedagang di arena sepekan sekali itu. Setiap ada pedagang yang menanyakan keputusan tersebut, pengurus berang. Bukannya memberi penjelasan detail, malah menjawab seenaknya.

“Ada juga aturan yang aneh. Angka kehadiran minimal 75 persen. Artinya, jangan sering-sering tidak jualan. Kalau sering bolos, kita diancam. Katanya lapak akan diberikan kepada orang lain. Sebenarnya itu terkait dengan iuran mingguan itu. Kalau ada yang tidak dagang, berarti pemasukan ke pengurus berkurang,” tuturnya.

Lantaran takut lapak diberikan kepada yang lain, tak sedikit pedagang yang menitipkan absen. Meski tidak jualan, ia tetap membayar iuran mingguan. “Tentu saja saya keberatan dengan aturan-aturan seperti itu. Mencekik,” tandasnya.

Sepengetahuannya, dari 132 pedagang yang terdaftar di Tasik Mambo Kuliner Nite, yang aktif jualan di bawah 130 lapak. Ia berharap, pengurus menempatkan diri sebagai pedagang, sehingga bisa berempati kepada pedagang lainnya. Tidak seperti sekarang. Otoriter. Mirip preman yang bisanya hanya membentak dan memalak.

Pedagang lainnya menambahkan, jika ada anggota yang bertanya soal keputusan tersebut, jawabannya menyakitkan. Bicaranya kasar. “Para pedagang sebenarnya keberatan, tapi mereka takut. Nanti akan ada acara festival. Para pedagang diintimidasi, kalau ada yang ikut festival tersebut, maka akan dikeluarkan dari keanggotaan (Tasik Mambo Kuliner Nite). Lapak diberikan kepada yang lain,” paparnya.

Rahma Agung Aivi Linagar, salah seorang pengurus Tasik Mambo Kuliner Nite, enggan bicara banyak saat dikonfirmasi hal tersebut. Ia malah bertanya siapa nama pedagang yang membicarakan soal kenaikan biaya pendaftaran itu.

Setelah dijelaskan kalau initasik.com tidak bisa menyebutkan nama atas permintaan narasumber, dalam wawancara via WA, ia menulis, “Kalau aku juga secara etika tidak bisa membicarakan ini ke pihak luar bagaimana?” [Jay]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?