Ilustrasi Edi Martoyo | initasik.com
Refleksi

Islam adalah Solusi

Oleh: Fauz Noor (Budayawan Tasikmalaya)

initasik.com, refleksi | Ketika nyantri dulu, pernah terlintas dalam benak, jika Nabi Muhammad Saw adalah nabi terakhir dan tak akan ada lagi firman Tuhan untuk manusia setelah al-Quran, menandakan bahwa Tuhan sudah malas untuk mengurus manusia, Tuhan sudah tak peduli akan pelbagai pikuk yang terjadi pada umat manusia. Manusia sebelum dan pada masa Muhammad Saw adalah mereka yang langsung disapa Tuhan, dan perbagai kasus yang terjadi pada mereka langsung diberi solusi oleh Tuhan. Pikir saya, kala itu, apakah berbagai kasus yang terjadi pada masa sekarang dan yang akan datang adalah kasus tak penting, sehingga Tuhan tak harus ikut campur?

Seiring perjalanan waktu, pelbagai literatur pun singgah ke benak, lamat-lamat saya mengerti. Al-Quran adalah sampai kitab akhir zaman, dan tidak akan adalah lagi selepas Muhammad Saw., mengandung pengertian bahwa al-Quran adalah solusi, Muhammad Saw (sunnah Rasul) adalah solusi. Singkat kata, Islam adalah solusi. Jika harus dipertegas, Islam harus menjadi solusi.

Makna “Islam adalah solusi”, terlihat dari firman Tuhan yang konon sebagai ayat terakhir turun dalam al-Quran, yaitu al-Maidah ayat 3. Ketika peristiwa Haji Wada’ ayat itu turun, “Pada Hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian.” Islam adalah sempurna.

Siapa orang yang tidak terpesona oleh kesempurnaan? Menurut tabiatnya, manusia memimpikan kesempurnaan. Hanya saja, makna dari kesempurnaan yang dicita-citakan pada manusia, sangat dimungkinkan berbeda. Karena setiap kita punya akar sejarah yang berbeda. Manusia pun akhirnya bertanya, apa maksud Tuhan bahwa agama Islam adalah sempurna?

Di antara kita berkata, biasanya pemuda, jika benar Islam itu sempurna kenapa beberapa tahun saja selepas Muhammad Saw. wafat orang-orang Islam berperang antarmereka, jika benar Islam sempurna kenapa dalam sejarahnya mesti ada darah tumpah, jika Islam adalah sempurna kenapa kita tak bisa membaca dalam al-Quran dan as-Sunnah solusi-solosi teknis dalam menyelesaikan problem kehidupan.

Sekali lagi, siapa orang yang tidak tergetar oleh sebuah kesempurnaan? Bahkan, mungkin kesempurnaan adalah sebuah utopia. Sebab, jika berkaca pada sejarah, selalu saja tersimpan dalam benak “kenapa harus begitu”  dan “kenapa tidak begini”. Artinya, kesempurnaan adalah makhluk yang kerap mengisi ruang benak, dan selalu menyisakan jarak antara “apa yang di benak” dan “apa yang nyata di depan mata”.

Sebagai contoh. Solusi al-Quran tentang kemiskinan adalah zakat. Satu-satunya tuntunan Tuhan supaya “harta kalian tidak hanya berputar di tangan orang kaya semata” adalah zakat. Lalu, kenapa ketika zakat bahkan sudah menjadi satu Undang-Undang khusus di Indonesia, setelah beberapa tahun ini, orang miskin masih saja menumpuk dan keadilan masih saja khayalan semata?

Jika kita serampangan, bisa saja berujar bahwa “zakat bukan solusi” dan “Tuhan sudah berbohong”. Sungguh tidak! Hemat saya, zakat adalah solusi Tuhan untuk mengentaskan kemiskinan, hanya saja teknis atau sistem zakat yang kita pakai sekarang ini “mungkin” sudah kedaluwarsa. Zakat yang hanya 2,5% pada zaman Nabi Saw. adalah solusi pada masa Nabi, di mana permasalahan kemiskinan belum serumit sekarang.

Artinya, penafsiran kita tentang zakat yang “bermasalah”, dan bukan zakat itu sendiri. Artinya, al-Quran hanya berbicara tentang konsep-konsep global. Adapun teknis dari konsep tersebut, Tuhan menyerahkan pada kesanggupan benak manusia untuk berpikir mencari pelbagai kehidupan pada masanya. Ini maksud, menurut saya, Kami menurunkan al-Quran untuk menjelaskan segala sesuatu. (Q.S. 16: 89), yaitu sesuatu yang berupa konsep-konsep universal yang dibutuhkan manusia untuk mengurus dirinya sendiri.

Itu sebabnya, dalam sejarah, Islam menjadi punya perbagai wajah. Lahirnya “penafsiran” yang beragam adalah sebuah keniscayaan. Karena al-Quran adalah kitab terbuka untuk mempunyai makna. Para ulama melakukan kajian serius akan ayat-ayat suci, dan mereka saling menyadari bahwa tafsir tidaklah sakral, bahwa tafsir adalah bahasa benak manusia yang sama-sekali bukan “bahasa-Tuhan”. Sungguh benar dan pantas jika Nabi Saw berujar, “Perbedaan pada umatku harus menjadi kasih-sayang.”

Inilah, menurut saya, makna bahwa Islam adalah solusi. Islam adalah solusi bukan dalam pengertian ajaran Islam yang mesti kita “paksakan”, karena makna “ajaran-Islam” secara teknis di antara kita bisa berbeda. Islam adalah solusi, karena Islam mengajarkan bahwa dalam perbedaan memahami Islam, pun dalam memahami Politik Islam, motivasi awal yang harus dibangun adalah kasih-sayang dan tujuan yang hendak dicapai adalah rahmah Allahu Ta’ala. [ ]