Peristiwa

Jadi Guru ABK, Rahmat Banyak Belajar Tentang Hidup

Kota Tasik | Rahmat Syafi’i MPd, guru Sekolah Luar Biasa Negeri Tamansari, Kota Tasikmalaya, mengaku bersyukur berada di tengah-tengah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Banyak hikmah yang mencerahkan. Membuka mata. Mendewasakan hati.Awalnya memang kesulitan. Tak biasa. Namun, lama-lama menyenangkan.

“Pertama kali mengajar, hati campur aduk. Setelah digeluiti dengan hati, timbul rasa sayang seperti ke anak sendiri. Apabila anak tersebut dihina masyarakat, kita sakit hati. Ketika melihat anak di jalan, saya harus berhenti dan membawanya,” ujar Rahmat kepada initasik.com dalam satu kesempatan.

Kini, setelah puluhan tahun dijalani, orientasi mengajarnya berubah haluan. Bukan melulu mencari materi, tapi yang terpenting adalah menjalani tugas yang diamanatkan Tuhan. “Mengajarnya harus dengan hati yang bersih. Harus penuh kesabaran. Yang kita ajar adalah anak-anak yang berbeda dengan anak pada umumnya,” imbuh pria yang sudah mengajar ABK selama 15 tahun itu.

Mengetahui karakter semua anak adalah salah satu kunci keberhasilan mengajar. Mengidentifikasi apa yang dibutuhkan melalui pendekatan, bukan kekerasan. Beri senyuman, tepukan, dan pujian. Metode pembelajarannya harus diulang-ulang.

“Setiap karakter anak itu berbeda-beda.  Tidak semua guru mendalami ketunaan setiap anak. Tapi kami bisa memahaminya. Anak harus sering diingetin dalam belajar. Pakai alat pembelajaran yang nyata,” terang lulusan Universitas Pendidikan Bandung itu.

Setelah menjadi guru ABK, ia mengaku bisa lebih memaknai kehidupan. Bisa lebih menghargai orang lain. “Ada nilai positif di anak, yang tidak ada dalam diri saya. Intinya yang normal jangan sombong. Harus berjiwa besar. Kita semua itu sama. Sejajar. Manusia itu banyak kelemahannya. Apa yang harus dibanggakan?” tandasnya. initasik.com|millah

Komentari

komentar