Dok. initasik.com
Peristiwa

Jadi Tulang Punggung Perekonomian Indonesia, Nasib Pekerja Industri Kreatif Keropos

initasik.com, peristiwa | Kontribusi industri kreatif bagi negara terbilang besar. Berdasarkan survei Badan Pusat Statistik, 2015, industri kreatif menyumbang Rp 852 triliun atau 7,38 terhadap Produk Domestik Bruto nasional, nilai ekspor US$ 19,4 miliar (12,88%), dengan menyerap 15,9 juta tenaga kerja.

Tak heran, Presiden Joko Widodo memprioritaskan ekonomi kreatif sebagai “tulang punggung perekonomian Indonesia”. Pemerintah pun membentuk badan khusus, yaitu Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF).

Badan tersebut dimandatkan untuk mengelola ekonomi kreatif. Adapun yang diakui sebagai subsektor ekonomi kreatif menurut BEKRAF adalah aplikasi dan pengembangan game, arsitektur, desain komunikasi visual, desain produk, fesyen, film, animasi, video, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni‎ rupa, televisi dan radio; dan desain interior.

“Namun demikian, para pekerja yang menjadi roda penggerak dari industri ini justru memiliki setumpuk masalah ketenagakerjaan yang relatif tidak pernah diangkat ke permukaan,” sebut Koordinator Presidium Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI), Ellena Ekarahendy, melalui rilis, Ahad, 30 April 2017.

Ia menyayangkan, BEKRAF, sebagai badan pemerintah yang diberi mandat mengelola sektor industri kreatif, lebih memprioritaskan pengembangan usaha dan penanaman modal (asing) di industri kreatif tanpa memberikan perhatian terhadap kesejahteraan pekerjanya.

“Jika masalah ketenagakerjaan para pekerja ini tak pernah diselesaikan maka ‘tulang punggung perekonomian ekonomi Indonesia’ yang diharapkan Presiden Joko Widodo ini akan menjadi ‘keropos’,” tutur Ellena.

Selain masih banyak pekerja yang overwork atau berkelebihan kerja yang melebihi 48 jam tiap pekan, pemutusan hubungan kerja (PHK) sering di luar ketentuan. Menurutnya, kasus PHK sepihak trennya meningkat dari 2015 ke 2016.

“Contohnya, kasus Harian Semarang, Cakra TV, Bloomberg TV, serta Kompas Gramedia, dan berbagai kasus lainnya yang tidak dilaporkan. Teranyar, kasus PHK belasan karyawan Indonesia Finance Today (IFT) pada 2016 lalu yang tak dibayarkan pesangon serta gaji terakhir akhirnya berujung ke ranah pidana,” bebernya. [Jay]

Komentari

komentar

Komentari

Komentari