Peristiwa

Jamaah Masjid Agung Kota Tasikmalaya Protes Pencantuman Nama Penyumbang AC

initasik.com, peristiwa | Jamaah Masjid Agung Kota Tasikmalaya memprotes pencantuman nama penyumbang pendingin ruangan (air conditioner/AC) yang dipasang di ruang utama masjid. Disebut-sebut, Ketua MUI Kota Tasikmalaya, KH Achef Noor Mubarok, juga melakukan protes yang sama.

Awal bulan ini, pengurus Masjid Agung Kota Tasikmalaya mendapat bantuan enam AC dari Paguyuban Tionghoa Tasikmalaya, Plaza Asia, Hotel Santika, dan TFT Group. Semua nama itu ditulis dalam AC tersebut.

“Bukan bantuannya yang dipersoalkan, tapi pencantuman nama-nama itu. Saya merasanya risih. Kalau mau bantu, siapapun dan dari agama apapun silakan saja. Tapi saya merasa risih melihat pencantuman itu. Soalnya ini masjid,” tutur Asep Saepudin, warga Pabrik Es, Tawang, seusai salat zuhur, Rabu, 28 Juni 2017.

Menurutnya, kalau di ruang publik, sekolah, atau perkantoran, pencantuman seperti itu biasa-biasa saja. Sedangkan kalau di masjid lain lagi. “Itu ada nama Asia Plaza dan Hotel Santika. Rasanya tidak pantas. Asia Plaza, kan, tempat belanja. Sedangkan hotel tahu sendiri fungsinya untuk apa. Sekarang nama-nama itu ada di dalam masjid. Saya risih melihatnya,” tandas Asep.

Terpisah, Dewan Pembina Masjid Agung Kota Tasikmalaya, R.H. Djadja Winatakusumah, mengatakan, pencantuman nama itu biasa-biasa saja. “Kalau ada yang protes dan keberatan dengan pencantuman itu, silakan ganti AC-AC itu. Satu AC harganya Rp 9 juta,” ujarnya.

Ia menyebutkan, total bantuan AC itu semuanya ada enam unit. Lima dipasang di dalam masjid. Satu lagi di ruang DKM. Pemberiannya tepat pada 1 Juni 2017. “Momentumnya pas di hari lahir Pancasila untuk menjalin persatuan sesama anak bangsa. Simbol kebhinnekaan.Pokoknya tidak jadi masalah. Apa tidak boleh dicantumkan begitu. Memang yang protes mau menggantinya? Saya ini yang punya masjid, tapi tidak keberatan dengan pencantuman itu,” beber Djadja.

Sementara itu, Muhammad Yunus, warga Jl. Siliwangi, Tawang, menilai, masjid merupakan milik umat Islam, bukan milik DKM. “Jangan  mentang-mentang pengurus DKM lantas bisa  berbuat seenaknya untuk masjid, apalagi ini Masjid Agung Kota Tasikmalaya,” ujarnya. [Jay]