Jay | initasik.com
Birokrasi

Jarang Terlihat di Bale Kota, ke Mana Saja Dede Sudrajat Selama Ini?

initasik.com, birokrasi | Sejak pilkada usai, Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Dede Sudrajat jarang terlihat ada di Bale Kota. Dalam acara-acara penting, seperti peringatan Hari Pendidikan Nasional, ia tidak hadir. Kenapa?

Diwawancara setelah menghadiri pelepasan siswa kelas XII, di Bale Panghegar Hotel Mandalawangi, Sabtu, 13 Mei 2017, Dede menjelaskan alasannya. Didampingi istrinya, ia datang ke acara itu mengendarai Mercedes Benz E260 berplat nomor Z 45 HD. Disetir sendiri. Tanpa sopir pribadi. Tanpa pengawalan.

Selama ini ia mengaku masih menjalankan tugas sebagai wakil wali kota. “Tetap aktif, cuman tidak di dalam, tapi di luar Bale Kota. Ada program yang sedang saya selesaikan. Komunikasi masih jalan, tapi memang dibatasi,” ujarnya.

Pembatasan komunikasi itu diakui Dede ada kaitannya dengan pilkada. Ada ekses yang membuatnya jadi kurang nyaman berada di lingkungan Pemkot. Untuk mencairkan kondisi itu, lima hari setelah pencoblosan, 20 Maret 2017, ia menggelar pertemuan dengan sekretaris daerah dan kepala dinas.

“Saya sudah briefing dengan mereka, tanpa wali kota, karena saya tidak mau bertemu dengan pembohong besar. Saya tidak mau bertatap muka dengan orang munafik,” tandasnya.

Dalam pertemuan itu, Dede mengajak OPD-OPD untuk salat Subuh berjamaah di Masjid Agung. Tidak hanya sekali dua kali, dan bukan seremonial. Rutin. Rencana itu dilontarkan sebagai upaya menyatukan kembali hati-hati yang berserak akibat eskalasi pilkada.

“Saya mengajak mereka untuk sering ketemu saya di Masjid Agung. Itu untuk melunakkan hati saya yang berkali-kali dikecewakan. Ingin menjalin komunikasi kembali. Ternyata tidak direspons. Makanya saya tidak punya gairah untuk bertemu mereka di Bale Kota,” paparnya.

Ditanya kenapa harus melalui salat Subuh berjamaah di masjid untuk merajut kebersamaan, ia meyakini, siapa saja yang salat 40 hari tanpa ketinggalan takbir rakaat pertama, maka akan dibebaskan dari siksa api neraka dan kemunafikan.

“Ajakan (salat berjamaah) itu untuk meredam sakit hati saya, tapi diabaikan. Berarti saya sudah diabaikan. Ketika ajakan saya tidak direspons, ya seperti ini sikap saya sekarang,” jelas mantan calon wali Kota Tasikmalaya pada pilkada kemarin itu. [Jay]

Komentari

komentar