Dok. Pribadi
Sosok

Jawaban Irvan Mulyadie atas Tertawaan Teman-temannya

initasik.com, sosok | Saat duduk di kelas 6 sekolah dasar, Irvan Mulyadie dan teman-teman sekelas ditanya guru terkait cita-cita mereka. Kebanyakan menjawab dokter, pilot, tentara dan lain-lain. Irvan beda sendiri. Ia menjawab ingin jadi sastrawan atau pelukis.

Sontak, seisi kelas tertawa. Membahana. Mereka menertawakan cita-cita pria kelahiran Tasikmalaya, 18 Maret 1981, itu. “Mungkin aneh. Teman-teman saya belum tahu apa itu sastrawan atau pelukis,” ujar Irvan Mulyadie saat berbincang dengan initasik.com.

Beruntung ia punya guru yang luar biasa. Namanya Yani Hendrawan (Alm). Ia yang menyemangati Irvan kecil untuk meraih cita-citanya itu. Dia juga yang menyuntikkan virus membaca dan menulis, sehingga wawasannya luas.

“Dari membaca saya tahu siapa saja maestro lukis Indonesia. Sejak SD saya sudah tahu nama-nama pelukis besar, seperti Affandi, Hendra Gunawan dan yang lainya. Sepertinya asyik juga jadi pelukis. Bisa terkenal. Tapi, oleh guru saya disarankan jangan jadi pelukis, tapi sastrawan. Katanya lukisan saya jelek,” tutur Irvan tertawa.

Memasuki usia SMP, ia mulai giat menulis. Pernah mengirimkan tulisan ke koran, tapi belum pernah dimuat. Irvan tak patah arang. Terus menulis dan menulis. Alhasil, saat duduk di bangku SMA, tulisannya dimuat di surat kabar.

Di usia SMA itu pula Irvan bergabung dan menimba ilmu di Teater Dongkrak dan Sanggar Sastra Tasikmalaya. Kendati belajar di sekolah kejuruan, semangat berkeseniannya tidak pudar. “Di dua tempat itu saya ditempa, sehingga jadilah saya yang sekarang,” aku putra Oteng Rahwani dan Idah Jubaedah (Alm) itu.

Menurutnya, dua sosok seniman yang paling berjasa bagi dirinya adalah Acep Zamzam Noor dan Saeful Badar. Sampai hari ini, ia mengaku masih berguru pada mereka. Selain puisi dan cerpen, banyak naskah drama telah ditulisnya. Karya-karyanya itu telah diterbitkan dalam antalogi bersama dan solo. Naskah-naskah yang ditulisnya pun sudah banyak yang dipentaskan.

Belum lama ini, Irvan dinobatkan sebagai juara menulis puisi dalam festival sastra di UGM. Prestasi serupa didapatnya dalam lomba menulis puisi yang diadakan PC Nahdlatul Ulama Maroko yang diikuti 1.400 peserta lebih. Irvan juara.

“Tahun 2015 kemarin saya diundang Badan Bahasa sebagai peserta Majelis Sastra Asia Tenggara, di Bogor. Perwakilan Indonesia, peserta yang terpilih hanya 11 orang. Seleksinya ketat. Dari Tasikmalaya saya bersama Doni Muhammad Nur,” tutur pria yang kini jadi PNS di Kabupaten Tasikmalaya itu. [Jay]

Ponten Irvan Mulyadie:

Prestasi:

Juara lomba menulis puisi pada Harlah NU ke-91 yang digelar PC Maroko, 2107 || Pemenang ke-2 lomba menulis puisi tingkat nasional “Sail Puisi Cimanuk, Indramayu, 2016 || Pemenang ke-2 lomba menulis puisi tingkat nasional “Sayembara Pena Kita”, Jawa Tengah, 2016 || Pemenang ke-3 lomba naskah drama “Karnaval Sastra Unpad, 2016 ||

Organisasi:

Sanggar Sastra Tasik || Teater Dongkrak || Direktur Forum Diskusi Kreatif Film Tasik || Ketua Barak Seni Tasik || Ketua Keluarga Seni Rupa Tasik || Ketua Badan Pengelola Gedung Kesenian Tasik (2011 s.d. 2015) ||

Karya:

Panututan; Sebuah Kampung Kenangan (2014) || Kumpulan Puisi Cinta “Tembang Kembara” (2008) || Kumpulan cerpen dan puisi “Tahun Kabisat” (2008) || Antologi puisi digital “Kabar Waktu” (2008) || Sahabat Sunyi (2004) || Lidah Petir (2004) || Dan banyak lagi puisinya yang dimuat dalam antologi bersama.

Komentari

komentar