KH Aminudin Bustomi khutbah Jumat di Masjid Agung Kota Tasikmalaya | Jay/initasik.com
Peristiwa

Jokowi Jumatan di Masjid Agung Kota Tasik, Azan Telat 12 Menit

initasik.com, peristiwa | Waktu menunjukkan pukul 12.48 WIB. Saatnya azan. Sudah masuk waktu zuhur untuk wilayah Kota Tasikmalaya. Namun, azan belum juga berkumandang. Di pengeras suara masih terdengar lantunan ayat suci Alquran.

Bukan tidak ada muazin. Semua sudah siap. Ada yang ditunggu, yaitu Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, beserta rombongan. Sejak awal, shaf untuk mereka sudah disiapkan. Empat baris dari mimbar sudah dikosongkan. Baris kelima diisi oleh pria-pria berambut cepak dan berbatik. Ada sekitar 20 orang. Belum yang berada di dekat tiang.

Pukul 11.55 WIB, azan belum juga dikumandangkan. Sudah lewat tujuh menit dari jadwal. Seorang kakek meminta izin untuk duduk di antara pria-pria berambut cepak itu, karena memang ada celah yang bisa dimanfaatkan. “Punten, A, ngiringan,” ujarnya. Ia tidak mendapat tempat. Disuruh ke belakang.

Empat menit jelang pukul 12 pas, Jokowi dan rombongan masuk masjid. Paspampres sigap. Memastikan aman. Presiden tidak langsung duduk. Ia salat sunat dua rakaat. Azan pun berkumandang pukul 12.00 WIB. Telat 12 menit dari waktu semestinya. Muazinnya berdiri di barisan keempat. Tidak seperti biasanya. “Seharusnya azan saja dulu, karena itu sudah ada hukumnya. Harus tepat waktu,” keluh salah seorang jamaah.

Baca: Keceriaan Saat Presiden Jokowi Lontarkan Pertanyaan Berhadiah Sepeda

Dalam khutbahnya, Ketua DKM Masjid Agung Kota Tasikmalaya, KH Aminudin Bustomi, mengupas QS Al-Baqarah ayat 186, “Dan apabila hamba-hambaKU bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKU, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintahKU) dan hendaklah mereka beriman kepadaKU agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Baca: Di Kursi Belakang, Ada Anak Ketiga Presiden Pakai Topi “Kolektor Kecebong”

Ia menjelaskan, ayat tersebut turun setelah para sahabat dan masyarakat waktu itu menanyakan tentang apakah seorang hamba yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan dikabulkan atau tidak. Ayat di atas jawabannya.

Baca: Presiden Jokowi Ingatkan Masyarakat Agar Jangan Saling Memfitnah

“Segala hal yang kita lakukan akan diminta pertanggungjawaban di mahkamah ilahi. Bulan Ramadan ini momentum untuk introspeksi. Kita mempunyai kewajiban atas konsekuensi pilihan kita. Konsekuensi ketauhidan. Jaminan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia akan memberikan jalan keluar dari setiap persoalan yang ada. Mudah-mudahan kita menjadi hamba pilihanNYA,” papar pengurus Pondok Pesantren Sulalatul Huda itu.

Protes pintu detektor

Sebelumnya, jelang waktu Jumatan, seorang jamaah memprotes kurang banyaknya pintu detektor. Semua jamaah yang akan masuk masjid mesti melalui pemeriksaan. Yang  membawa tas diperiksa dulu. Ada jamaah yang membawa pisau lipat, pisaunya diamankan beserta Kartu Tanda Penduduk miliknya.

“Seharusnya pintu detektornya jangan hanya dua. Jadinya, kan, antre. Kita yang datang ke sini mau Jumatan. Pengamanan presiden, oke kita terima. Tapi harusnya jangan sampai jadi antre begitu. Jujur saja saya terganggu. Tersinggung. Mau salat sampai seperti ini,” sesal Ruslan Abdul Gani, pimpinan Pesantren Tahfidz Anak Yatim, Kota Tasikmalaya. [Jay]