Edi Sumardi | Jay/initasik.com
Informasi

Jualan Koran tak Bisa Lagi Diandalkan, Mengkhawatirkan

initasik.com, informasi | Puluhan tahun jualan koran, Edi Sumardi mengaku waswas soal nasibnya ke depan. Akhir-akhir ini dagangannya sepi. Jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ia meyakini, bisnis koran tinggal menunggu waktu kebangkrutan.

Menurutnya, keterpurukan itu disebabkan serbuan teknologi komunikasi yang masuk hingga ke kamar-kamar pribadi. “Sekarang butuh informasi apapun ada di hape,” ujar pedagang koran di trotoar Jl. KH Zainal Musthafa Kota Tasikmalaya itu.

Ia mengaku buka lapak koran sejak 1990-an. Namun, setelah internet memasyarakat, terlebih ponsel pintar kian menjamur, penjualan korannya menurun drastis. “Sekarang tambah parah. Jatah koran semakin berkurang, karena memang tidak banyak pembeli,” tandasnya.

Nining Herlina, pegawai Sariksa Agency; agen koran dan majalah yang berada di Paseh, Kota Tasikmalaya, membenarkan hal itu. Ia menyebutkan, dari tahun ke tahun penjualan koran semakin menurun.

Dulu, saat pengumuman kelulusan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN), misalnya, koran banyak diburu masyarakat. Ditunggu-tunggu. Koran belum datang, calon pembeli sudah antre.

Sekarang tidak lagi. Pengumuman seperti itu banyak diposting di media-media berbasis online. Menjamurnya portal berita menjadi alternatif bagi masyarakat pencari informasi. Keberadaan koran kian terancam.

“Sekarang banyak koran dan majalah yang sudah tutup. Koran-koran nasional pun yang bertahan hanya satu dua. Apalagi majalah. Banyak yang sudah tidak terbit lagi. Yang masih ada, penjualannya juga semakin berkurang,” tuturnya.

Tomi Mulyana, loper koran yang sudah menjalani usahanya selama 45 tahun, mengatakan, penghasilannya sekarang jauh berbeda dibanding dulu. Ia mencontohkan, sebelumnya punya langganan sampai 200 orang. Itu dari satu koran. Sekarang hanya 80-an.

“Penghasilan saya dulu bisa tiga kali lipat dibanding guru. Sekarang mah jauh. Kalau tidak punya usaha warung di rumah, repot,” akunya.

Begitupun Didi Tarmedi. Ia mengatakan, penjualan koran sekarang jauh berbeda dibanding dulu. Dicontohkannya, dulu ia punya lebih dari empat puluh pelanggan salah satu koran nasional. Kini, jumlahnya tinggal belasan.

“Merosotnya sangat terasa. Kalau dulu, selain punya langganan, jual eceran pun ramai. Sehari bisa habis seratus eksemplar. Sekarang, eceran paling banyak sepuluh. Kalau tidak punya usaha lain, jualan koran sudah tidak bisa diandalkan,” tutur suami Tuti Umi dan ayah empat anak itu. [Jay]