Peristiwa

Jualan, Nasrudin Berangkat Subuh Pulang Tengah Malam

Kota Tasik | Nama di KTP seumur hidupnya tercatat Nasrudin. Namun, ia biasa dipanggil Enas. Pria kelahiran 10 Maret 1946 itu kini tinggal di Ciledug 002/001, Kel/Kec Tamansari, Kota Tasikmalaya. Siapa dia?

Dia bukan siapa-siapa. Bukan sebuah nama yang punya nilai berita tinggi. Namun, ada mutiara di dalam dirinya; kerja keras dan pantang menyerah. Di usia senjanya, Enas masih menguras keringat mendorong roda buah-buahan.

Tangannya tampak kaku saat menghitung uang di teras Masjid Aisyah, Jl. Ir. H. Juanda, Kota Tasikmalaya. Uang dari hasil menjual rambutan dan petai itu membuatnya membuang napas panjang. Jumlahnya tak seperti yang diharapkan. Hanya Rp 80 ribu. Jangankan untung, untuk menutup modal pun masih jauh. “Kadang sok menang Rp 30 rebu atawa Rp 25 rebu. Sering oge tara kenging artos,” jawabnya saat ditanya untung bila dagangannya laris.

Suami Een dan ayah tiga anak itu mengaku mulai keluar rumah sehabis Subuh. Tujuannya pasar Cikurubuk; mengambil roda dan barang dagangan. Dari Cikurubuk, ia mendorong roda keliling Kota Tasikmalaya. Dengan keterbatasan tenaga, Enas menyusuri sudut-sudut kota.

Jam sapuluh wengi teh masih di kaum (Masjid Agung Kota Tasikmalaya). Dugi Cikurubuk jam 12 wengi. Uih ka bumi naek angkot. Dugi bumi teh sok jam satuan. Kadang ti Cikurubuk sok ngadorong roda ka bumi. Opat jam dugina teh,” tutur Enas menceritakan rute perjalanan jualannya.

Disinggung kenapa tidak diam di rumah, mengingat usianya sudah sepuh, Enas menjawab, “Atuda pan kedah tuang. Sareng deuih calik wae di bumi teh kesel. Ku barudak ge dicaram, tapi da kedah kumaha deui. Maenya menta ka barudak terus. Pan sarua barudak ge boga pangabutuh.”

Selain jualan, Enas mengaku kadang jadi buruh tani. Tergantung cuaca. Kalau sedang musim tani, ia memilih turun ke sawah. Saat ditanya siapa wali Kota Tasikmalaya yang sekarang, ia mengernyitkan alis. “Nu tukang ngeureut (mengkhitan) tea sanes?” jawabnya seraya tersenyum masam.

Kecamatan termiskin
Terpisah, Camat Tamansari, Endang Surahmat, menyebutkan, kecamatan yang dipimpinnya merupakan yang termiskin di Kota Tasikmalaya. Menurutnya, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kecamatan Tamansari berada di angkar 73, sedangkan rata-rata Kota Tasikmalaya 76.

“IPM itu kan mencakup kesehatan, pendidikan, dan daya beli. Semuanya itu di Tamansari masih rendah. Kalau melihat angka IPM, memang paling kecil dibanding kecamatan lain,” ungkap Endang, Selasa, 12 Januari 2016.

Soal angka kemiskinan di kecamatannya, ia mengaku belum ada data khusus. Tapi kalau berdasarkan daftar penerima raskin, ada 7.598 kepala keluarga dari 19.108 KK. Itupun data 2011.

Untuk mengatasi kemiskinan di daerahnya, Endang menuturkan, pihaknya tidak mempunyai program secara langsung yang bisa digulirkan di masyarakat, karena sifatnya kecamatan itu mendukung program-program pemkot melalui dinas-dinas. Misalnya dari Dinas KUMKM, Perindustrian dan Perdagangan memberikan pelatihan membuat keripik singkong atau yang lainnya. initasik.com|syamil

Komentari

komentar