Birokrasi

Judulnya Laboratorium Inovasi, Tapi Datang Masih Terlambat

initasik.com, birokrasi | Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman, melontarkan unek-uneknya kepada peserta acara laboratorium inovasi yang digelar di Hotel City, Selasa, 9 Mei 2017. Ia kecewa. Dalam agenda, acara tersebut dibuka pukul setengah sembilan. Nyatanya molor.

Padahal masih ada agenda lain yang harus dihadirinya. Jeda waktunya hanya 30 menit. “Saya datang dari pagi, tapi di sini belum siap. Jadinya muter-muter dulu. Ini bukan masalah sepele. Dulu kita sering mendengar time is money, itu benar sekali,” bebernya.

Menurutnya, judul acaranya bagus; laboratorium inovasi. Tapi dalam praktiknya belum dibarengi dengan perubahan-perubahan perilaku. Masih tidak tepat waktu. Suka ngaret. “Harus ada komitmen. Kita ini ingin memberikan pelayanan terbaik. Buktikan kalau kita bisa memberikan pelayanan maksimal. Masyarakat hari ini selalu meminta pelayanan cepat,” tandasnya.

Ia sepakat, diperlukan berbagai inovasi dalam melayani masyarakat. Apalagi di era kemajuan teknologi informasi dan komunikasi seperti sekarang. Pemerintah harus bisa betul-betul manfaatkan teknologi. Dengan teknologi bisa maksimalkan pelayanan dengan melakukan inovasi-inovasi.

“Sesuatu yang inovatif biasanya melahirkan harapan-harapan baru. Coba contoh dunia otomotif. Mereka selalu menghadirkan produk-produk baru yang inovatif. Harapan kami, para aparatur pemerintah bekerja dengan penuh kreativitas dan inovasi, sehingga yang menjadi harapan masyarakat bisa terpenuhi,” tandas Budi.

Di tempat yang sama, Kabag Organisasi Setda Kota Tasikmalaya, Deden Mulyadi, menjelaskan, acara itu akan dilangsungkan dua hari. Jumlah pesertanya 114 orang. Namun, yang hadir saat pembukaan kurang dari 70 orang.

“Kami bekerja sama Lembaga Administrasi Negara. Kerja sama dalam hal peningkatan inovasi kinerja. Semua dinas diharapkan bisa berinovasi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Ini yang berhubungan dengan pelayanan publik, seperti rumah sakit, pendidikan, perizinan dan lain-lain,” terangnya.

Ia mencontohkan pelayanan di rumah sakit Sragen. Jika ada pasien masuk IGD dan dinyatakan harus segera ditindak, akan langsung diprioritaskan, tanpa ditanya siapa yang akan bertanggung jawab membayar biaya pengobatan. [Jay]

Komentari

komentar