Ruang kelas di salah satu sekolah swasta di Kota Tasikmalaya yang tidak terawat lantaran kekurangan jumlah siswa | Eri/initasik.com
Edukasi

Jumlah Siswa SMA Swasta Terus Menyusut

initasik.com, edukasi | SMA swasta di Kota Tasikmalaya kondisinya kian terpuruk. Dari tahun ke tahun jumlah siswanya terus menyusut. Hal itu, misalnya, terjadi di SMA Pancasila dan SMA Pasundan 1.

Rachmat, kepala SMA Pancasila, mengatakan, dari tahun ke tahun penerimaan siswa baru di sekolahnya kian menurun. Tahun kemarin, pihaknya hanya menyerap 36 peserta didik baru. Padahal, jumlah kelasnya ada 15 ruang.

Alhasil, kelas-kelas yang tak terpakai itu dibiarkan tak berpenghuni. Kumuh. Tak terawat. Di beberapa sudut ruang kelas yang tak terpakai dijadikan sarang yang nyaman bagi serangga laba-laba.

Rachmat memaparkan, makin berkurangnya siswa baru adalah dampak dari banyaknya SMA negeri, termasuk menjamurnya sekolah kejuruan. “Sejak saat itu, jumlah pendaftar di kami terus menurun. Tahun ini baru ada beberapa orang saja yang daftar. Padahal pendaftaran sudah dibuka sejak beberapa waktu lalu,” tutur Rachmat saat ditemui di ruang kerjanya, Senin, 9 Juli 2018.

Selain maraknya sekolah baru, waktu pelaksanaan penerimaan peserta didik baru juga ikut berpengaruh. Banyak sekolah negeri yang memperpanjang waktu pendaftaran dari tanggal yang ditentukan.

“Ada yang masih buka PPDB padahal waktu sudah habis. Ada yang tiap tahun membangun kelas baru demi penambahan kuota saat penerimaan siswa baru. Ada juga yang bahkan berbuat curang, yaitu masuk lewat belakang,” jelasnya.

Kendati dilanda sepi peminat, Rachmat sekuat tenaga mempertahankan sekolahnya agar tetap ada. Ia tak mau mengikuti nasib sekolah lain yang sudah tutup, seperti SMA Angkasa dan SMA Siliwangi. Untuk itu, ia mengaku selalu berupaya meningkatkan kualitas pendidikan di sekolahnya dan gencar sosialisasi.

“Kami sudah banyak melakukan promosi-promosi ke setiap SMP, juga mengaktifkan program ekstrakulikuler. Di samping itu, kita juga selalu menyelaraskan program sekolah dengan pemerintah. Salah satunya penyelenggaraan UNBK,” bebernya.

Kondisi serupa terjadi di SMA Pasundan 1. Salah seorang guru TU yang enggan disebutkan namanya menjelaskan, dari tahun ke tahun jumlah siswa baru makin menyusut. Sampai hari ini saja, jumlah peserta didik yang telah mendaftar tak lebih dari 5 orang. Padahal, jumlah kelas yang dimiliki sekolah sekitar 16 kelas. “Tahun kemarin ada 17 orang. Tahun sekarang tidak tahu berapa banyak. Mudah-mudahan meningkat,” harapnya. [Eri]