Peristiwa

Kabupaten Ekspor Nampan ke Korea

Kabupaten Tasik | Siapa sangka nampan yang terbuat dari bambu harganya Rp 500 ribu? Padahal, bentuknya biasa saja. Ada yang bulat dan segi empat. Bahan utamanya pun hanya kayu. Tidak ada campuran lain. Luar biasanya, harga itu belum seberapa. Untuk ekspor beda lagi. Angkanya mencapai Rp 1 juta satu buah.

Oman (54), pengrajin nampan asal Kp. Panisilir, Desa Mandalagiri, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya, menyebutkan, nampan buatannya tidak asal jadi. Perlu waktu satu minggu hanya untuk menyelesaikan satu buah. Maklum, kualitas ekspor.

“Yang seperti ini kita ekspor ke Korea,” sebutnya sembari menunjukkan nampan berbentuk bulat, Minggu, 14 Desember 2014. Oman adalah salah seorang peserta pameran dalam Tasikmalaya Creative Festival yang digelar Bank Indonesia Perwakilan Tasikmalaya.

Bupati Tasikmalaya, Uu Ruzhanul Ulum, saat meninjau pameran, mengatakan, bukan hanya nampan yang diminati pasar luar negeri. Beberapa kerajinan tangan hasil warga kabupaten pun disenangi bule. Ada tudung saji, wadah parsel, cenderamata, mendong, dan lainnya.

Juga bukan saja ke Korea, tapi sampai ke Timur Tengah dan Eropa. “Jadi, kami tidak mengekspor beras RSI saja. Kerajinan tangan pun sama. Sekali kirim mencapai satu kontainer,” ujarnya.

Sekretaris Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekrasnada) Kabupaten Tasikmalaya, Wawan Ridwan Efendi, menyebutkan, tahun ini nilai ekspor barang-barang kerajinan mencapai Rp 118 miliar.

“Kita mendorong agar produk para pengrajin tidak hanya laku di pasar nasional, tapi juga ke luar negeri. Pengrajin yang berpotensi dan tidak membeli modal, kita beri bantuan hibah,” imbuhnya, seraya menambahkan, Dekrasnada Kabupaten Tasikmalaya membina 14.230 pengrajin yang tersebar di tiap kecamatan. initasik.com|sep

Komentari

komentar