Inspirasi

Kalau Saja Waktu Itu Tina “Ramayana Parcel” Putus Asa….

initasik.com, inspirasi | Dua minggu jelang lebaran, parsel buatan Tina Risnawati Sardjono tidak ada yang beli. Satupun tidak laku. Padahal membuatnya cuma empat bungkus. Harganya pun murah-murah. Satu minggu jelang lebaran, belum juga terjual. Akhirnya, empat buah parsel itu ia bongkar semua. Takut mubazir. Isinya makanan semua.

Tapi, Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu punya rencana yang sangat baik bagi hamba-hambaNYA. Setelah dibongkar, ada calon pembeli yang menanyakan parsel. Diapun pesan enam. Tina menyanggupi.

“Itu tahun 1998. Di tahun pertama merintis itu akhirnya saya bisa jual 40 parsel. Alhamdulillah. Waktu itu memang saya tidak buka khusus toko parsel. Tidak seperti sekarang. Dulu hanya di simpan di depan. Waktu itu ini toko kelontongan,” tutur pemilik Ramayana Parsel, Jl. Tentara Pelajar 89, Kota Tasikmalaya.

Di tahun kedua, usaha parsel Tina ada kemajuan. Habis seratus buah. Tahun ketiga lebih banyak lagi. Sampai 500 parsel. Dari tahun ke tahun terus naik. Sekarang sudah di angka 4.000 parsel. Jumlah karyawannya 15 orang.

Untuk memuaskan konsumen, Tina terus berinovasi. Isi parsel dibuat beragam. Bukan hanya makanan. Mulai 2002 ia memasukkan porselen ke dalam parsel. Kemasannya dibuat lebih cantik. Dan kini lebih beragam lagi. Ada peralatan dapur atau barang-barang elektronik, seperti oven dan coffe maker, sampai busana muslim. Ukuran satu parsel ada yang setinggi dada orang dewasa.

“Kalau harga yang paling murah itu Rp 100 ribuan. Tapi kemarin ada yang pesan 200 parsel, harganya minta yang Rp 75 ribu. Kita buatkan juga. Yang pesan dengan harga Rp 3 juta juga ada. Tapi itu khusus pesanan. Kalau harga paling mahal yang kiat buat dan dipajang di sini kisaran Rp 1,6 juta,” sebut istri Rudi Heryanto dan ibu dua anak itu.

Baca: Jualan Parsel, Bisnis Tahunan yang Masih Menjanjikan

Tina mengatakan, tiga bulan sebelum Ramadan, ia dan suaminya sudah mulai belanja keperluan parsel. Tidak ada di Tasikmalaya, berangkat ke Bandung. Dua minggu sebelum Ramadan mulai produksi. Baju-baju batik yang biasa dipajang di toko parsel sekarang, dipindah ke toko sebelah.

Menurutnya, sampai sekarang bisnis parsel masih menjanjikan. Malah ia berani menyebut, itu salah satu usaha yang tidak mengenal kata rugi. Soalnya, barang selalu habis terjual. Bahkan kurang. Parsel sudah habis, calon pembeli masih banyak yang membutuhkan.

“Alhamdulillah. Saat masih usia sekolah dasar, saya suka diajak bapak ke toko parsel. Waktu itu saya ada pikiran ingin membuat parsel, karena kelihatannya cantik-cantik. Sekarang jadi pengusaha parsel,” tuturnya tersenyum. [Jay]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?