Inspirasi

Kampung Tetangga Terpikat Ide Harun

Kabupaten Tasik | Dituduh menyebarkan aliran sesat, Harun Wijaya bergeming. Ia terus melangkah. Sekolah harus tetap jalan. Apapun penilaian orang. Bagaimanapun cibiran warga. Harun yakin satu hal; pilihannya tidak salah.

Sekolah yang ia sebut sekolah rakyat itu bernama Sindang Harapan. Tempatnya di Kampung Citangkil, Desa Pameutingan, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya. Dalam bahasa Sunda, sindang berarti mampir. Ia berharap, anak-anak yang mampir ke tempatnya untuk belajar jadi mempunyai harapan hidup.

Anak tunggal dari pasangan Karma dan Ujub yang lahir pada 3 Mei 1978 itu ingin anak-anak di kampung terisolir tersebut melek ilmu pengetahuan. Sekolah boleh belum berizin. Seragam pun tak mengapa seadanya. Bebas. Tapi, mereka harus pintar. Juga sholeh sholehah. Tak heran, selain memberi ilmu pengetahuan, setiap hari murid-murid diajak sholat dhuha.

Inisiatif Harun mendirikan sekolah Sindang Harapan pada pertengahan 2012 menyebar dari mulut ke mulut. Bukan hanya di kampungnya, tapi juga sampai ke kampung tetangga. Mereka tak lagi menuduh suami Atik Tikasari dan ayah dua anak itu sebagai penyebar aliran sesat.

Warga-warga sudah berubah pikir. Malah, tahun 2014 kemarin, warga di Kampung Cisero, Kecamatan Cipatujah, dan Kampung Babakan, Kecamatan Bojonggambir, minta pertolongan Harun. Mereka ingin mendirikan sekolah seperti yang dirintisnya. Sekolah itu kini sudah berjalan. “Pertama kali dirikan sekolah seperti itu tahun 2004 di Kampung Cinengah (Desa Ciheras, Kecamatan Cipatujah),” ungkapnya.

Menurutnya, ia ingin mengikis kekakuan berpikir banyak orang yang masih menilai bahwa sekolah itu harus berseragam, ada bangunan, dan diajari oleh guru yang berseragam juga. “Saya pikir tidak seperti itu. Saya merasa tersanjung saat ada orangtua siswa di sini yang mengajak orangtua siswa di salah satu SD untuk studi banding. Katanya, silakan tes anak kelas 6 di SD sana dengan anak kelas 2 di sini. Bagaimana kemampuan matematika, bahasa, baca Al-Quran, dan lainnya,” tuturnya bangga.

Harun menegaskan, kendati sekolahnya belum punya legalitas, bukan berarti masa depan anak jadi mentok. Mereka bisa melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, karena bisa ikut ujian resmi yang diselenggaraan negara.

“Bila ada anak yang sudah waktunya ujian, saya mencari sekolah yang mau menerima anak itu untuk ikut ujian nasional. Seolah memindahkan anak itu ke sekolah yang resmi. Dan itu sudah berhasil. Saya sangat bangga ketika ada murid di sekolah yang di Ciheras bisa masuk SMK Negeri,” sebutnya. initasik.com|ashani/asm

Komentari

komentar