Peristiwa

Kantong Miras di Belakang Markas Satpol PP

Kota Tasik | Operasi cipta kondisi yang digelar jajaran Polres Tasikmalaya Kota, Sabtu, 21 November 2015, malam hingga Minggu, 22 November 2015, dini hari menjaring puluhan pemabuk dan mengangkut 26 liter tuak dan muniman keras (miras) lainnya.

Tuak itu didapat dari salah satu penjual yang biasa mangkal di bekas terminal Cilembang, di belakang markas Satpol PP Kota Tasikmalaya. RS, pemilik tuak, sedang tidak ada di tempat saat polisi menggerebek tempat jualannya. Yang ada hanya Kk, karyawannya. Ia beserta barang bukti dinaikkan ke truk Dalmas.

Kepada wartawan Kk menyebutkan, dalam sehari rata-rata menjual 30 liter sampai 50 liter tuak. Per liter, yang sudah dikemas dalam kantong plastik, dijual Rp 10.000. “Kalau malam Minggu biasanya habis 100 liter,” ujarnya.

Kabag Ops Polres Tasikmalaya Kota, Kompol Ricky Lesmana, mengatakan, pihaknya akan intensif melakukan razia miras untuk menekan kriminalitas di kota ini. “Daerah bekas terminal Cilembang ini merupakan salah satu kantong penjual miras,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, di bekas terminal Cilembang itu ada lima orang penjual miras. Namun, pihaknya belum bisa menangkap penjualnya, karena sering tidak ada di tempat. “Malam ini kita beruntung dapat barang bukti, biasanya kalau dirazia tidak dapat apa-apa karena mungkin sudah bocor,” tuturnya.

Pernyataan Ricky senada dengan pengakuan Kk yang mengatakan, di sana ada lima penjual tuak dan miras lainnya. Namun, saat ditanya rumah RS di mana, ia geleng kepala. “Saya baru seminggu kerja di sini, Pak,” elaknya. Sehari, ia digaji Rp 30.000.

Kasi Ops dan Penindakan Satpol PP Kota Tasikmalaya, Andri Ikbal, mengaku sudah tahu soal keberadaan para penjual miras di belakang kantornya. Pihaknya pun sering melakukan razia, baik mandiri atau gabungan. “Pol PP hanya memberikan sanksi administrasi, karena sampai saat ini belum punya PPNS,” jawabnya saat ditanya sanksi apa yang dikenakan kepada para penjual miras yang ditangkap Satpol PP.

Ia menerangkan, yang berwenang untuk melakukan penyidikan sampai pelimpahan ke pengadilan adalah PPNS alias Penyidik Pegawai Negeri Sipil. “Jadi, di ranah yustisi adalah kewenangan PPNS. Sampai saat ini Pol PP tidak ada yang berkualifikasi PPNS. Kami sudah berkoordinasi dengan Bidang Diklat BKD agar tahun depan dialokasikan dana untuk pengiriman anggota Pol PP ikut diklat PPNS,” tuturnya.

Ia meyakini, keberadaan penjual miras di bekas terminal Cilembang itu bisa dipangkas semua. “Tapi itu tadi, karena kepemilikan terminal Cilembang masih aset Kabupaten Tasikmalaya, jadi mereka masih tinggal di lokasi tersebut. Terus, selama ini karena tidak ada PPNS, Pol PP hanya menyita barang bukti, tanpa bisa menyeret penjual untuk dipidana,” bebernya. initasik.com|shan

Komentari

komentar