Humaniora

Kapok Jadi TKW, Wasitoh Tak Mau Jauh Lagi dengan Keluarga

initasik.com, humaniora | Maksud hati ingin memperbaiki ekonomi keluarga, Wasitoh nekat jadi tenaga kerja wanita (TKW) di Arab Saudi. Namun, ia harus menelan pil sangat pahit saat pulang ke Tanah Air. Ia dihadapkan pada kenyataan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Kecintaannya pada suami dan keluarga memaksa Wasitoh jadi TKW. Sejak lama suaminya sakit pneumokoniosis atau paru-paru hitam. Itu lantaran ia lama kerja di penambangan batu bara. Terlalu banyak debu batu bara yang terhisap. Mengendap di paru-paru.

“Saat itu saya memutuskan untuk jadi TKW, karena lihat kondisi suami yang kian parah. Sebelum berangkat  Arab, saya suruh suami untuk berhenti kerja,” ujar Wasitoh.

Namun, itu tak diindahkan suaminya. Ia tetap pergi menambang. Selama ia menambang di kota lain, anaknya dititipkannya pada adik dari istrinya. Itu membuat kondisinya semakin parah. Sementara Wasitoh masih di Arab.

Saat pulang dari sana, ia disambut kabar duka. Suaminya telah meninggal dunia. “Ketika mendengar kabar itu saya langsung pingsan. Sangat kaget. Ngga percaya,” imbuhnya.

Kenyataan itu membuat ia enggan berangkat lagi ke luar negeri. “Saya kapok jauh dari keluarga. Tidak ingin mengalami hal yang sama. Sudah cukup sampai di situ. Sesulit apapun hidup, saya lebih baik menderita dengan keluarga, daripada senang tapi jauh dari keluarga,” tuturnya.

Kini, ia jualan kelapa muda di sekitar Gebu, Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya. Meski pendapatannya tidak sebesar saat jadi TKW, ia mengaku bahagia. “Segini juga sudah alhamdulillah masih bisa makan dan bayar uang sekolah si bungsu. Yang penting saya bisa sama keluarga tercinta,” tandasnya. ***