Ilustrasi: Mobil dinas wali kota dan wakil wali Kota Tasikmalaya | Dok. initasik.com
Birokrasi

Karena “Mobil” Kota Tasik Sasisnya Bengkok, Ban Gundul, Per Mati


initasik.com, birokrasi | Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman, membuat analogi mobil untuk menggambarkan perbedaan kota yang dipimpinnya dengan Bandung atau Surabaya. Menurutnya, salah besar jika membandingkan Kota Tasik dengan Bandung. Kebutuhan dan kemampuannya berbeda.

“Diibaratkan mobil, kalau mobil milik Bandung itu sudah bagus. Wajar bila kemudian dipasangi aksesori macam-macam. Ada tv di tiap jok mobil. Kemudian dipasang ban radial, pelek racing, jok kulit, audio dan segala dipasang,” tutur Budi, Kamis, 7 Juli 2017.

Tapi, untuk mobil Tasik belum bisa dibuat seperti itu. “Kita juga punya mobil, tapi tidak mungkin dipasangi macam-macam, karena sasisnya bengkok, ban gundul, per mati, terot coplok,” dalihnya.

Untuk itu, langkah pertama yang dilakukannya adalah memperbaiki kerangka yang rusak dan mengganti elemen-elemen lainnya. “Saya lain teu bisa masang sound system anyar sangkan bebeledugan. Ngan bisi diseungseurikeun batur. Aya mobil ngaliwat, brangbringbrung, tapi mobilna rawing, bari medeng. Artinya apa? Saya perbaiki dulu sasis-sasisnya, ban, per, terot, dan semuanya ganti. Setelah semua diperbaiki, baru kemudian pasang aksesori,” paparnya.

Menurutnya, kebutuhan dan kemampuan Kota Tasikmalaya dengan Bandung berbeda. Di kota ini masyarakat miskinnya masih banyak, jalan-jalan rusak, fasilitas kesehatan pun belum representatif.

“Kalau kita membangun taman nanti ditertawakan orang, karena jalan-jalan masih banyak yang rusak. Harus diketahui juga, PAD Kota Bandung itu Rp 2,5 triliun. Sedangkan PAD kita 240 miliar. Itupun untuk rumah sakit Rp 130 miliar. Jadi, PAD murninya hanya Rp 130 miliar. Bayangkan, Rp 130 miliar untuk mengurus Kota Tasik. Kalau tidak bisa mencari uang ke luar, berat kita. Makanya jangan bandingkan dengan Bandung,” beber Budi. [Jay]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?