Seni Budaya

Katara Bamboo; Mengolaborasikan Karinding dan Tarawangsa

initasik.com, seni budaya | Di tengah gempuran budaya luar yang menyusup melalui berbagai celah, sekelompok anak muda Tasikmalaya bergerak untuk menjaga dan melestarikan seni budaya tradisional.

Jumlahnya bukan satu dua kelompok. Banyak. Dan itu menggembirakan. Ternyata anak-anak muda di kota ini masih banyak yang pengkuh merawat kesenian warisan karuhun. Salah satunya Katara Bamboo.

Kelompok seni karinding yang bermarkas di Paseh Panututan, Kelurahan Tuguraja, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, itu bukan hanya memainkan karinding, tapi juga membuat alat-alat musik dari bambu.

Bukan hanya itu. “Karinding kami kolaborasikan dengan tarawangsa. Itu alat musik sama-sama dari bambu. Saya bersama teman-teman punya tegak agar warisan leluhur yang berbahan bambu harus terlihat. Jangan disembunyikan, agar banyak orang tahu,” ujar Ade Mehong, 32 tahun, pegiat Karinding Katara Bamboo, saat ditemui di sanggarnya.

Menurutnya, seni karinding harus bisa dijadikan sebagai alat berkomunikasi dan bersosialisasi. “Tahun ini kami fokus main ke beberapa pesantren agar mereka tidak antiseni karinding,” tandasnya.

Ia mengaku, yang dikerjanya bukan materi semata. Tapi ada yang lebih penting dari itu. “Ada kebanggan tersendiri yang tidak ternilai oleh uang. Intinya kita harus bisa menjadi manusia pembelajar,” imbuhnya.

Katel, 28 tahun, personel lainnya, menambahkan, ketika bermain karinding ada rasa yang berbeda. Tenang. Sekaligus bangga terhadap orang tua dulu yang membuat alat musik karinding “Urang Sunda itu ternyata kaya dalam bermusik. Pencapaian orang tua dahulu sangat luar biasa,” katanya. [Syaepul]

Komentari

komentar