Pesta Rakyat Tasikmalaya, 1898 | Dok. Soekapoera Institute
Historia

Kebangkitan Masyarakat dan Gairah Pembaharuan di Tasikmalaya


initasik.com, historia | Pergantian nama Sukapura menjadi Kabupaten Tasikmalaya, 1913, menjadi penanda kebangkitan masyarakat dan gairah pembaharuan di Tasikmalaya. Perubahan tersebut diundangkan melalui Staatsblad van Nederlandsch-Indië voor het Jaar 1913. No. 356.37, dan diabadikan dalam motto “Tasikmalaya, Sukapura Ngadaun Ngora” yang bermakna Tasikmalaya adalah Sukapura baru.

Dalam jurnal “Sejarah Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya” yang disusun Soekapoera Institute dijelaskan, perubahan nama Kabupaten Sukapura itu terjadi semasa pemerintahan R.A.A. Wiratanoeningrat (1908-1937).

Pada periode ini penduduk Kabupaten Tasikmalaya berjumlah 886.973 orang, termasuk di antaranya 658 orang Eropa dan 4.617 orang Tionghoa. Luas wilayahnya 4.608 km². Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Garut; sebelah selatan Samudra Hindia; sebelah utara bentangan sungai Citanduy membatasi Tasikmalaya dengan Kabupaten Ciamis dan Majalengka; sementara bentangan Citanduy di sebelah timur adalah batas Tasikmalaya dengan Jawa Tengah.

Wilayah administrasi pemerintahan kabupaten Tasikmalaya terbagi ke dalam sepuluh Distrik (kawadanaan) yang meliputi Tasikmalaya, Ciawi, Manonjaya, Singaparna, Taraju, Karangnunggal, Cikatomas, Banjar, Pangandaran, dan Cijulang.

Luasnya wilayah kabupaten Tasikmalaya tersebut menjadikan posisi kota Tasikmalaya sebagai kota paling berpengaruh di Timur Priangan. Tasikmalaya adalah kabupaten yang sangat subur dengan beragam kekayaan alam.

Pemerintah kolonial dan kaum kapitalis Eropa sangat berambisi untuk melakukan ekploitasi ekonomi di seluruh wilayah Tasikmalaya. Pengusaha Eropa menanamkan modal yang cukup besar untuk membuka puluhan ribu hektar lahan perkebunan.

Brïnkman’s Cultuur-Adresboek Voor Nederlandsch-Indie: 1937 Ten Dienste Van Handel, Industrie, Nijverheid42, mencatat 80 perusahaan perkebunan menguasai bentangan tanah subur Tasikmalaya yang pada masa itu meliputi sepuluh kewadanaan.

Untuk memfasiltasi eksploitasi ekonomi dalam skala yang lebih besar, Pemerintah Kolonial membangun jalur kereta api yang mampu menjangkau seluruh wilayah perkebunan di kabupaten Tasikmalaya.

Pada 1904 s.d. 1920, Staats-spoorwegen (S.S.) membangun jalur kereta api Tasikmalaya Singaparna untuk memudahkan jangkauan pendistribusian hasil perkebunan di sebelah barat Tasikmalaya yang sangat melimpah.

Di era 1911 s.d. 1921, Pemerintah Kolonial berani mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk mendanai mega proyek jalur kereta api Banjar – Parigi via Kalipucang sampai Cijulang. Pembangunan jalur kereta api Banjar-Kalipucang-Cijulang, ditujukan untuk menjangkau hasil yang sangat berlimpah dari beberapa perkebunan di wilayah Tasikmalaya bagian timur, selatan, dan tenggara.

Keberhasilan R.A.A. Wiratanoeningrat mengawal modernisasi pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya membawa dampak kemajuan pembangunan fisik di kota Tasikmalaya. Selama 30 tahun kepemimpinannya, Tasikmalaya mengalami kemajuan yang pesat.

Bupati berhasil mendorong kelahiran sebuah kota modern yang memiliki sarana dan prasarana publik yang sangat lengkap dan memadai. Selama tiga dasawarsa tersebut, di Tasikmalaya telah dibangun pendopo dan alun-alun, gedung kantor pemerintahan, lapangan olahraga, sekolah sekolah rakyat, perombakan kaum, taman-taman kota, gedung bioskop, gedung teater, pasar-pasar, jalan-jalan yang lebar dipusat perkotaan dan pelosok pedesaan, lokasi wisata, jalur angkutan masal trem (kereta api) yang melintasi pusat kota dan menghubungkan Singaparna, gedung perbankan dan koperasi rakyat, wilayah pertokoan, gedung rumah sakit, stasiun kereta api, jalur-jalur bis angkutan umum, sarana penerangan listrik, jalur telepon dan telegram, fasilitas air minum (leideng), dan pusat-pusat pertokoan.

Pada masa itu Tasikmalaya tumbuh pesat menjadi jantung peradaban modern di Priangan Timur. Bupati R.A.A. Wiratanoeningrat memiliki perhatian khusus pada buruknya kesejahteraan rakyat di tenggara Tasikmalaya. Ia berhasil mengubah Rawa Lakbok dan Rawa Bijoek menjadi lahan pertanian seluas 14.000 hektar dengan menggunakan peralatan tradisonal alakadarnya.

Peristiwa monumental ini dicatat sempurna oleh R. Muhammad Sabri Wiraatmadja dalam sebuah naskah “Ngabukbak Lakbok”. R.A.A. Wiratanoeningrat memimpin langsung proses perubahan Rawa Lakbok menjadi lahan pertanian, dibantu oleh pangreh praja dan masyarakat setempat.

Dalam catatan M. Sabri Wiraatmadja, disebutkan perubahan rawa tersebut membutuhkan waktu 12 tahun, dimulai dari tahun 1925 sampai dengan Bupati meninggal tahun 1937. Sepeninggalnya, Bupati membagikan tanah tersebut kepada rakyat Tasikmalaya Timur dan orang-orang Jawa pendatang untuk dimanfaatkan meningkatkan kesejahteraan hidup. ***

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?