Desa

Kebersamaan dan Kesederhanaan dalam Pernikahan; “Ngembohan”

 

Kota Tasik | Bagi kalangan berduit, pernikahan bukan semata urusan memenuhi syarat sesuai syariat. Tidak cukup hanya begitu. Ada pertaruhan gengsi di dalamnya. Dipilihlah gedung pernikahan hingga katering ternama. Undangan pun dibuat ekslusif. Mewah. Si empunya hajat tinggal sediakan uang. Kelar semua urusan.

Tak ada kebersamaan. Jauh dari kesederhanaan. Segalanya dipercayakan kepada orang  lain. Tetangga tidak bisa ikut membantu memasak, misalnya. Soalnya, urusan makanan sudah diserahkan kepada katering. Mau ikut pasang tenda terpal pun tidak bisa, karena nikahnya di gedung.

Tapi, nun jauh dari pusat kota masih ada tradisi dalam pernikahan yang hingga sekarang masih bertahan. Namanya ngembohan. Jika ada yang nikahan, warga setempat ngamplop bukan hanya berbentuk uang, tapi juga memberi beras dan bahan makanan lainnya. Bahan-bahan itu dibawa dalam baskom. Pulangnya, baskom itu diisi makanan hajatan. Saling memberi.

Bukan hanya itu, memasaknya pun dilakukan gotong royong. Ada yang bagian meracik bumbu, potong kentang, siapkan kayu bakar, dan lainnya. Terbangun kepedulian tanpa ikatan uang. Niatnya membantu. Menjaga kebersamaan.

Tiap aya nu hajat, di lembur mah pasti kieu. Paheuyeuk-heuyeuk,” ujar Mahmud, warga Ciluncat, Kelurahan Setiawargi, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya.

Menurutnya, sehari sebelum pernikahan, warga datang ke rumah pemilik hajat. Bukan hanya tetangga, mereka yang rumahnya berjauhan pun, asalkan masih satu kampung, pasti datang ngembohan. “Aya oge nu datang pas hari-H,” imbuhnya.

Biasanya mereka datang bergerombol. Jalan kaki. Rata-rata usianya sudah tua. Nenek-nenek. Namun, usia bukan halangan dalam menyambung silaturahmi. Jarak bukan alasan untuk tidak peduli. initasik.com|shan

 

 

Komentari

komentar