Momon | initasik.com
Seni Budaya

Kecintaan Nazwa pada Seni Tari dan Cara Ibunya Mendidik Anak

initasik.com, seni budaya | Nazwa Tamailla Kanza, siswi SDN Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, tampil memukau dalam Nyawang Bulan yang digelar Bale Budaya Mahardika, di kawasan Gunung Hampelas, Situsari, Bungursari, Kota Tasikmalaya, beberapa waktu lalu.

Ia menari tunggal. Jari jemarinya lentik. Gemulai. Perawakannya kecil, namun lincah. Ia, bukan hanya piawai menari, tapi juga cerdas di kelas. “Saya senang menari dari kelas 4. Tidak kok, tidak menggangu. Buktinya saya di sekolah selalu meraih juara,” kata dara berusia 12 tahun itu.

Yuli Fitriani, orang tua Nazwa, meyakini, menari bisa jadi media untuk membentuk karakter serta mental dalam diri anak. Memiliki kepribadian yang percaya diri. Mengolah rasa. “Ia menjadi berani tampil di panggung. Itu merupakan yang pertama kalinya menari sendirian,” terang ibu yang tinggal di Karangkawitan, Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, itu.

Ia berbagi pengalaman. Untuk mengenalkan dunia lain pada anak harus dilakukan perlahan. Jangan terkesan ada paksaan. Tumbuhkan rasa senang pada anak. Dangan begitu, anak belajar atas dasar keinginannya. Kesadaran diri sendiri. “Tidak terlalu ditekankan pada anak. Pertamanya dikenalkan. Tidak terlalu dibawa serius. Sering-seringlah bermain sambil belajar di rumah,” ungkapnya.

Pendidikan di rumah, sambung dia, sangat penting. Soalnya di sekolah terbatas dengan waktu. Hanya sebentar. Selain itu, anak dikenalkan pada sesuatu yang sifatnya menggembirakan. Seperti menari, bernyanyi, dan sebagainya.

“Paling utama itu di rumah. Di sekolah guru satu muridnya banyak. Puluhan. Supaya anak tidak stres, otaknya mesti selalu refresh. Kalau belajar terus terusan jenuh,” pungkasnya. syaepul

Komentari

komentar