Edukasi

Kelompok Belajar Satelite; Mengarahkan, Bukan Memaksakan

 

Kota Tasik | Anak enggan belajar bukan berarti dia malas. Ada banyak alasan yang menyebabkannya begitu. Bisa jadi cara belajarnya tidak menyenangkan. Monoton. Itu-itu saja. Membosankan.

Tapi hal itu tidak terlihat di Kelompok Belajar Satelite. Anak-anak tampak semangat dalam belajar. Mereka antusias mengikuti pelajaran. “Lebih senang di sini,” jawab Muhammad Favian Revaldi, siswa kelas 6 di salah satu SD swasta ternama di Kota Tasikmalaya, saat ditanya mana yang lebih menyenangkan antara belajar di sekolah dan di Satelite.

Menurut dia, ada sesuatu yang beda saat menimba ilmu di Kelompok Belajar Satelite. Belajarnya tidak terlalu serius, tapi dapat banyak pengetahuan baru. “Ada cerita dan permainannya juga,” ujarnya.

Kelompok Belajar Satelite adalah tempat belajarnya anak-anak SD yang dirintis Pipit Indah Purwanti, istri dari Indra Somantri. Mereka adalah orangtua Muhammad Dihya Aby Abdi Manaf, siswa SDN Citapen Kota Tasikmalaya, yang menjadi salah satu delegasi Indonesia untuk mengikuti lomba sains dan seni internasional, di Daejeon, Korea Selatan, 20 Oktober s.d. 24 Oktober 2016 mendatang.

Pipit mengatakan, kelompok belajar itu semula diadakan untuk berbagi ilmu kepada teman-teman sekolah anaknya. Juga, agar rumahnya di Perum Kota Baru, Kota Tasikmalaya, jadi ramai. Soalnya, Muhammad Dihya merupakan anak semata wayang.

Seiring berjalan waktu, ternyata banyak anak yang ingin ikut. Malah  ada orangtua yang menitipkan anaknya di kelompok belajar tersebut. Tak heran, kini rumahnya lebih mirip tempat bimbingan belajar.

Ia menjelaskan, kelompok belajarnya diikuti siswa kelas 1 sampai kelas 6 sekolah dasar. Jadwalnya tiap Jumat sampai Minggu, mulai pukul setengah dua siang sampai setengah enam petang. Tiap kelas ada jadwalnya. Adapun mata pelajarannya adalah agama, Bahasa Indonesia, PKn, IPS, IPA, dan matematika.

“Di sini kita ingin seperti home schooling. Mereka harus cerdas, tapi juga berakhlak. Di sini ada aturan, kalau tidak membantu teman akan kena hukuman. Hukumannya diajak ngobrol. Di sini kami tidak memaksakan, tapi mengarahkan. Kita ikuti potensi setiap anak, karena potesi setiap anak itu berbeda,” papar Pipit.

Untuk lebih menghidupkan semangat belajar anak-anak, tiap Minggu jadwalnya percobaan ilmu pengetahuan. Eksperimen kecil-kecilan, seperti membuat pendingin udara dari ember, atau membuat jamur, dan sebagainya.

Pipit menyebutkan, Satelite itu sebenarnya merupakan akronim dari santai, teliti, lincah, dan tekun. Disebutkannya, banyak anak yang sebelumnya tidak berprestasi, jadi bisa unjuk diri setelah ikut kelompok belajar Satelite, termasuk Muhammad Favian Revaldi yang jadi finalis Olimpiade Sains Nasional (OSN).

Hampir semua siswa pernah ikut OSN. Bukan hanya di pelajaran IPA, ada juga yang berprestasi di lomba pildacil. “Kami juga mengajarkan mereka untuk berani bicara di depan umum,” imbuhnya. initasik.com|shan

 

Komentari

komentar