Peristiwa

Kemarau, Omzet Penjual Air Isi Ulang Naik

Sejak beberapa hari terakhir ini, Kota Tasikmalaya mulai diguyur hujan. Kendati begitu, masyarakat masih kesulitan air bersih. Maklum, sang air langit masih turun tentatif dan belum mengguyur deras.

Soal kekurangan air bersih, para penjual air isi ulang punya cerita tersendiri. Bagi mereka, musim kemarau memberikan berkah sekaligus anugerah. Bagaimana tidak, pada musim kemarau omzet mereka mengalami kenaikan.

Kris misalnya. Penjual air isi ulang di Rancabango, Kec. Bungursari, Kota Tasikmalaya, ini mengaku omzetnya lebih tebal dibanding sebelumnya. Biasanya, kata Kris, satu tangki berisi 4.000 liter air habis dalam waktu delapan hari. “Sekarang mah lima hari juga sudah habis,” sebutnya.

Hal serupa dialami Aa, penjual air isi ulang di daerah Jl. Siliwangi. Menurutnya, sejak hujan lama tak mengguyur kota ini, penjualannya mengalami peningkatan sampai 30 persen. Bahkan, di hari-hari tertentu omzetnya lebih tinggi lagi.

Menurut Kris dan Aa, peningkatan omzet itu disebabkan banyak masyarakat yang menggunakan air isi ulang untuk keperluan mandi dan mencuci. “Saya punya langganan yang tinggal di belakang Bale Kota. Biasanya, dua hari sekali ia hanya memesan dua galon air. Tapi sekarang, sampai 13 galon,” ungkap Kris.

Kris mengaku senang dengan kenaikan omzet itu. Tapi, ia pun terpaksa harus menguras tenaga lebih, lantaran hampir semua langganannya minta diantar ke tempat. “Lumayan cape juga, karena harus mengantar kesana kemari,” tambah Kris seraya mengisi galon.

Ipan, warga Bantargedang, Kec. Bungursari, Kota Tasikmalaya, mengatakan, sejak sumur di rumahnya mengering, memakai air isi ulang adalah jalan keluar yang dipilih. “Harus bagaimana lagi?” jawabnya saat ditanya kenapa memilih air galon untuk mandi.

Sebagai orang dagang, kata Ipan, waktunya habis di pasar. Berangkat pagi, pulang sore. Saat pulang ke rumah, yang ada hanya tenaga sisa, sehingga tak bisa mengambil air ke tempat-tempat yang masih menyimpan air.

Sebenarnya, dulu ia memilih menyuruh dan mengupah orang untuk mengambil air ke satu tempat yang jaraknya 500 meteran. “Sekarang mah lebih baik pakai air galon. Selain airnya bersih, pembayarannya pun jelas. Segalaon kan harganya Rp 4.000 diantar ke rumah,” ujarnya.

Sehari, Ipan mengaku menghabiskan lima galon air untuk keperluan mandi dan lain-lain. “Sebenarnya bukan habis dalam sehari, lebih tepatnya dalam satu malam. Soalnya, saya membeli air itu sore hari, dan habis pagi hari,” tambahnya. ASHANI

Komentari

komentar