Etalase

Kembang Kempis Nasib Payung Geulis

initasik.com, etalase | Kerajinan payung geulis di Tasikmalaya tak pernah sepi dari cerita. Suka duka kerap mewarnai. Warsono (45), generasi keempat dari pengrajin payung geulis di sentra Karya Utama, menceritakan kisahnya kepada initasik.com, Jumat, 25 Mei 2018.

Menurutnya, payung geulis berjaya di tahun 1955 sampai 1997. Setelah itu kondisi mulai berubah. Masa keemasan payung geulis perlahan sirna lantaran di pasaran mulai banyak payung modern yang terbuat dari besi dan kain. Para pengrajin payung geulis mulai kelabakan mencari pesanan. Sebagian gulung tikar.

Tapi tidak dengan Warsono. Ia tetap menjalankan bisnis kerajinan itu lantaran sudah turun temurun. Saat pasar lokal sudah mulai dikuasai oleh payung modern, Warsono memutuskan untuk menjadikan payung geulis sebagai daya tarik bagi wisatawan asing.

Maka dipilihlah Bali. Selain banyak tempat wisata, Pulau Seribu Pura itu juga dinilai banyak dikunjungi para wisatawan asing. Namun, lagi-lagi pemasaran payung geulis di Bali harus redup sejak adanya peristiwa bom.

Sejak saat itu, pemasaran payung geulis kembali mengempis. Tapi lagi-lagi Warsono tak menyerah. Ia tak mau payung geulis hilang ditelan persaingan yang jorjoran. Sebagai orang yang lahir dari keluarga pengrajin payung geulis, ia tetap bertahan. Saat ditanya soal perhatian pemerintah, Warsono geleng kepala. Tak banyak kata yang diucap. Menurutnya, kalau diceritakan, takut malah menjadi perbincangan yang buruk.

Pada 2004 Warsono membuat gebrakan. Untuk kembali mengingatkan masyarakat akan eksistensi payung geulis, ia membuat payung geulis ukuran besar. Bersama sekitar dua puluh orang pengrajin lainnya, ia berhasil membuat payung geulis raksasa dengan ukuran diameter sekitar 7,5 meter. Payung itu kemudian dipajang di pintu gerbang acara Tasik Fair.

Responsnya bagus. Banyak pengunjung yang terkesima dengan karya itu dan jadi perbincangan warga dunia maya. Setelah mulai viral, pemerintah baru turun tangan memberikan perhatian. Warsono menilai, perhatian pemerintah terhadap payung geulis terkesan ikut-ikutan.

“Mereka mungkin tidak pernah tahu bagaimana perkembangan sentra payung geulis setiap bulannya. Tapi setelah payung geulis banyak diperbincangkan, barulah mereka mulai ada perhatiannya. Ikut-ikutan memperbincangkan payung geulis sebagai kerajinan khas asal Kota Tasikmalaya. Sudah ah kalau bahasnya ke sana, suka jadi malah males,” tuturnya.

Sejak empat tahun terakhir, Warsono mengaku kondisi pemasaran payung geulis sudah mulai membaik. Semua pengrajin di sentra payung geulis pun turut merasakannya, walau tak terlalu signifikan.

Hal itu dibenarkan Budi Indra, pemilik Nailah Collection. Ia mengaku pemasarannya sudah mulai mengembang. Banyak para pengusaha hotel, restoran dan lainnya yang mulai memesan payung geulis untuk mempercantik ruangan. [Eri]

Komentari

komentar