Inspirasi

Keterbatasan Fisik, Yandi tak Mau Berpangku Tangan

Kabupaten Tasik | Hidup dalam tekanan mental yang mendera tentu sangat tidak nyaman. Sesak. Setiap hari hati dipenuhi pertanyaan bernada protes, seperti “Kenapa begini, Tuhan?” atau “Mengapa saya dilahirkan seperti ini, Tuhan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu sempat berkecamuk di benak Yandi, 28 tahun, warga Kp. Boregah 001/009, Desa Cilampunghilir, Kecamatan Padakembang, Kabupaten Tasikmalaya. Putra kedua dari pasangan Ade Suherman dan Dedeh itu menjalani hidupnya dalam tekanan mental yang luar biasa berat. “Hidup terkadang bagi saya tidak adil,” ujarnya, dalam satu kesempatan.

Sejak lahir, ia ditakdirkan mengalami keterbatasan fisik. Kedua tangannya hanya sampai sikut. Itupun tidak sempurna. Jari-jemarinya nyaris tidak ada, kecuali di tangan kirinya ada ruas jari. Kedua kakinya pun tidak normal seperti kebanyakan orang. Ia mengaku sempat frustasi dengan keadaannya itu. Marah pada kenyataan. Minder. Tak percaya diri, sehingga ia tidak mau sekolah.

Erma Susanti, kakak Yandi, mengatakan, saat itu adiknya tidak sekolah bukan karena ketidakmampuan biaya. Penyebabnya hanya satu: minder. Untuk membuat Yandi bisa baca-tulis, Erma turun tangan. Ia telaten mengajarkan calistung. “Kami tidak bisa memaksa Yandi untuk bersekolah. Kami paham dengan kondisinya saat itu,” imbuhnya.

Seiring waktu, perlahan Yandi mulai berdamai dengan kenyataan. Ia tak lagi suka berkeluh-kesah. Takdir diterimanya dengan hati terbuka. Ia tak mau selamanya terjerembab dalam kubangan pertanyaan yang tak perlu jawaban. Ia bangkit. Pada 2011, Yandi mengikuti pelatihan keterampilan menjahit di Balai Rehabilitasi Penyandang Cacat di Cibabat, Cimahi. Itu diikutinya selama delapan bulan.

Banyak hal yang didapatnya. Kepercayaan dirinya semakin tumbuh. Kini ia yakin, minder dan merasa tidak sempurna tidak akan membuat keadaan lebih baik. Keterbatasan fisik bukan halangan untuk terus berkembang dan maju. “Allah telah memberikan jalan untuk saya,” tandasnya.

Dengan keahlian yang didapatnya dari pelatihan, kini Yandi membuka usaha jasa penjahit pakaian dan permak di rumahnya. Yandi mengaku tak mau berpangku tangan. Ia tekun bekerja berbekal satu unit mesin jahit dari Balai Rehabilitasi dan sebuah mesin obras pemberian dari Yayasan Bale Asih yang dikelola Yayan Tahyan, pengelola toko gratis untuk anak-anak sekolah. initasik.com|ahmad

Komentari

komentar