Dok. Republika
Sosok

Kiai Ilyas, Ajengan Sunda (1)

initasik.com, sosok | Peneliti sejarah Sunda, Iip D. Yahya, membuat tulisan berseri tentang K.H. Moh. Ilyas Ruhiat, salah satu tokoh sentral Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya. Tulisan-tulisan itu ia posting di halaman Facebook “Inohong Sunda”. Atas seizin Kang Iip, initasik.com akan memuat tulisan tersebut secara berkala. Selamat membaca. Semoga menginspirasi.

][

Ciri apakah yang paling menonjol dari sosok almarhum K.H. Moh. Ilyas Ruhiat? Kesundaannya. Banyak koleganya dari kalangan ulama luar Jawa Barat, tanpa ragu menyebutnya ulama dari Sunda. Namun, ciri itu tak membuatnya kaku atau membatasi gerak.

Di tangannya, ciri kultural itu justru menjadi modal untuk “bersaing” di tengah pergaulan nasional mewakili komunitas pesantren. Pada diri Ajengan Ilyas, unsur Islam pesantren dan Sunda itu menyatu dalam sebuah praktik hidup yang dinamis.

Rapat akbar NU 2 Maret 1992 menjadi salah satu saksinya. Di tengah ratusan ribu nahdliyin, ia tampil berpidato sebagai pelaksana Rais Aam. Nada bicaranya datar dan kalimat-kalimatnya runtut. Ia jelaskan satu per satu kebijakan NU yang telah dihasilkan dalam Munas Lampung beberapa waktu sebelumnya. Ia bertutur dengan aksen Sunda yang kental di tengah acara Ikrar Kesetiaan NU terhadap NKRI itu. Ia berpidato tetap dengan gaya pengajian di tengah gegap gempita para orator kondang. Bagi dia, tak ada yang harus dibuang dari kesundaannya ketika ia tampil sebagai tokoh nasional. Ia justru bangga dengan ciri itu dan selalu membawakannya.

Sunda Cipasung

Sebagai anak ajengan di Tasikmalaya, ketika kecil ia dipanggil Endang Ilyas. Oleh neneknya dari ibu, Sarimaya, ia diberi nama Uyu dan dipanggil Jang Uyu. Nama ini muncul karena Ilyas sembuh dari sakit kencing batu melalui sebuah operasi pada 16 Oktober 1940. Uyu adalah kependekan dari uyuhan hirup (untung masih bisa hidup). Nuansa kesundaan itu terus menyertai pertumbuhannya karena ia tak berkesempatan belajar di luar Cipasung.

Salah satu kesempatan yang dilewatkanya adalah studi ke Al-Azhar Mesir pada 1956. Bersama Najib Wahab, putra K.H. Abdul Wahab Chasbullah, persiapan ke Mesir itu sebenarnya sudah matang. Namun, akhirnya rencana itu urung dijalani karena datang perintah dari sang ayah: menikah! Maka untuk memenuhi dahaga keilmuannya, ia mengikuti berbagai kursus tertulis, kuliah jarak jauh, dan membaca buku di luar kitab kuning. Ia juga langganan media internal NU dan koran Masyumi, Abadi.

Maka Ilyas pun seolah dikarantina di lingkungan Cipasung. Ia belajar Islam di pesantren ayahnya dan menyelami kebudayaan Sunda dari masyarakat sekitarnya. Apa jadinya? Ia tampil sebagai sosok santri yang nyunda. Sopan santun Sunda yang diselaminya mendapatkan legitimasi ajaran akhlak dari kitab-kitab kuning, terutama dari karya-karya Al-Ghazali yang dikajinya.

Kesundaan Ajengan Ilyas bisa dilihat pula dari penamaan ketiga anaknya. Si sulung, memang awalnya diberi nama Abdul Wahid Ramadhan karena lahir di bulan suci itu dan tafaul dengan nama ayah Gus Dur, Abdul Wachid Hasyim. Namun, ketika oleh seorang santri bernama Endang Amna diganti menjadi Acep Zamzam Noor, ia tidak menolak. Anak kedua diberi nama Eneng Ida Nurhalida, lalu si bungsu Enung Nursaidah Rahayu. Acep-Eneng-Enung, adalah nama-nama Sunda. Tak berlebihanlah kalau ia disebut sebagai Ajengan Sunda dan nyunda.

Ajengan dari Sunda sangat banyak, tetapi yang bisa nyunda, mungkin hanya beberapa saja. Lalu, apa kelebihan Ajengan Sunda yang satu ini? Puncak capaiannya adalah saat ia terpilih sebagai pejabat pelaksana Rais Aam PBNU di Lampung 1992.

Tak ada yang menduganya, tetapi tak ada yang menolaknya. Ketakterdugaan itu misalnya terbaca dari komentar Gus Dur saat tahu bahwa yang terpilih adalah Ajengan Cipasung. “Huaah, saya kaget. Saya sama sekali nggak ingat, karena peringkatnya kan di bawah ….” Ajengan Ilyas memang berada pada urutan enam dalam jajaran Syuriyah PBNU saat itu. Ketika itu memang diperlukan seorang tokoh yang dapat diterima semua pihak, tidak punya lawan konflik yang laten, dan berkepribadian matang.

Saat muncul nama Ajengan Ilyas, memang tidak ada yang menduga, tetapi tak ada pula yang kecewa. Tidak ada yang merasa keberatan terhadap sosoknya karena tidak ada alasan yang kuat untuk menolaknya. Pemerintah tak ada masalah. Pihak-pihak yang bertikai di NU dari sisa-sisa perkubuan Situbondo-Cipete, bisa menerima.

Kalangan politik nasional juga senang karena menganggap NU “tidak akan macam-macam” di tangan Ajengan Cipasung itu. Ajengan Ilyas telah menjadi jalan tengah yang diterima semua pihak. Ia adalah pemimpin yang lahir saat umat membutuhkan. Ia menjadi the right man on the right place and the right time.

Boleh disebut, Ajengan Ilyas adalah ulama yang mengakar pada budaya dan masyarakat Sunda. Posisi demikian sangat membantunya dalam relasi dengan pemerintah, baik sebagai pengurus NU maupun selaku pengasuh pesantren. Sedikitnya ada dua peristiwa yang dapat menjadi contoh.

Pertama, ketika pemerintah ingin mengakomodasi Ajengan Ilyas dalam keanggotaan DPR/MPR RI setelah terpilih di Munas Lampung. Awalnya, ditawarkan keanggotaan atas nama NU yang diusung DPP Golkar. Dengan diplomatis ia menolak karena hal itu melanggar AD/ART NU. Lalu ditawarkan lagi keanggotaan sebagai utusan Jawa Barat dan bukan atas nama NU. Karena merasa tidak ada aturan NU yang melarang, tawaran terakhir ini diterima. Sementara wakil NU di DPR/MPR dari Golkar, diisi oleh Gus Dur.

Kedua, ketika konflik NU-Pemerintah menguat pascaMuktamar Cipasung 1994, ajengan Ilyas mencari cara agar konflik bisa segera diredam karena yang menderita adalah umat yang di bawah. Jauh sebelum konflik itu mereda dengan kehadiran Presiden Soeharto di Probolinggo pada 2 November 1996, Ilyas pribadi sudah bisa diterima Soeharto di Istana Negara. Bukan atas nama NU, melainkan “bersama rombongan ulama Jawa Barat”.

Bukan berebut

Sebagai organisatoris, Ajengan Ilyas sadar betul pada keniscayaan persaingan. Ia tidak memungkiri itu. Prinsipnya, “Seorang bijaksana menuntut diri sendiri. Seorang rendah budi hanya menuntut orang lain. Seorang bijaksana mau berlomba, tetapi tidak mau berebut, mau berkumpul tetapi tidak mau berkomplot. Seorang bijaksana tidak memuji seseorang karena ucapannya dan tidak mengabaikan ucapan karena orangnya.” Petuah itu diambilnya dari Lun Gi XV : 21-23 bagian Wi Ling Kong.

Kalau dalam Konbes Lampung ada kesan Ajengan Ilyas ketiban pulung, maka melalui Muktamar Cipasung, ia membuktikan kualitasnya sebagai organisatoris karier yang tidak takut bersaing. Ia mengungguli Kiai Sahal Mahfudh dengan perbandingan suara 205-101, sehingga secara aklamasi ia dinyatakan sebagai Rais Aam PBNU periode 1994-1999. Kedudukannya sebagai tuan rumah, kedekatannya dengan pemerintah, kemampuannya mengimbangi gerak langkah Gus Dur, menjadi nilai tambah di mata muktamirin. Ia tidak terjebak dalam perkubuan Gus Dur-Abu Hasan, dan bersikap sewajarnya terhadap semua orang. Baik orang-orang pro-Gus Dur maupun pro-Abu Hasan, sama-sama diterimanya dengan baik.

Kesiapan menerima risiko persaingan itu terlihat pula ketika menjelang Muktamar Cipasung, oleh sejumlah orang termasuk ibunya, ia disarankan agar mundur dari PBNU dan berkonsentrasi mengurusi pesantren. Kepada sang ibu, Ajengan Ilyas menjelaskan, “Emih, saya mah kalau memang dicalonkan juga bukan karena kehendak sendiri. Dulu juga di Lampung bukan kemauan saya, tetapi diminta oleh para ulama yang sangat saya hormati. Jadi Emih tidak perlu risau apakah saya dicalonkan lagi atau tidak. Kita kembalikan saja kepada forum muktamar dan para muktamirin sebab merekalah yang akan menentukan. Kita mah lebih baik berkonsentrasi sebagai tuan rumah yang baik saja.”

Sebagai manusia biasa, tentu ia juga tak luput dari kritik dan ungkapan kekecewaan dari pihak lain. Untuk itu, ia selalu merujuk satu prinsip ushul fiqh, “Mencari keridaan semua orang adalah tujuan yang mustahil tercapai.” Agar selalu ingat atas kritik yang masuk itu, setiap berita/dokumen kritik-protes itu disimpannya dengan baik. Sesekali ia menunjukkan surat kritik dari koleganya sesama PBNU kepada istrinya. “Mih, ini ada kritik buat Apih dari Kiai A,” katanya tersenyum sambil meminta istrinya untuk ikut membaca. Tak ada nada resah, perasaan benci, atau sikap emosional kepada si pengirim surat. (Bersambung)

 

 

Komentari

komentar