Masjid Ponpes Kikisik yang dijadikan tempat berkumpul para pengungsi saat Gunung Galunggung meletus | Irfal Mujaffar/initasik.com
Peristiwa

Kikisik, Kampung yang Selamat dari Terjangan Lahar Galunggung

initasik.com, peristiwa | Erupsi Galunggung yang terjadi pada 5 April 1982 menyebabkan masyarakat Tasikmalaya mengungsi untuk menyelamatkan diri. Bahkan tidak sedikit di antaranya yang terpaksa transmigrasi ke Pulau Sumatera. Namun, dari dahsyatnya peristiwa itu, ada kejadian yang sulit dicerna nalar.

Ma’mun, 83 tahun, warga Kampung Kikisik Pesantren, bercerita tentang betapa menyeramkannya limpahan lahar yang datang Gunung Galunggung. Masih hangat dalam ingatannya, aliran lahar datang begitu cepat, menyeret semua yang dilewatinya. Batu-batu berukuran besar mengambang dan terseret di atas derasnya aliran lahar.

Beberapa sungai yang dilewati lahar, seperti Sungai Cikunir dan Ciloseh, tidak mampu menampung besarnya volume aliran lahar, sehingga tidak sedikit kampung-kampung, sawah, dan perekbunan warga dilahap habis oleh lahar.

Ketika lahar mulai turun dan memporakporandakan apa saja yang dilewatinya, Kampung Kikisik yang hanya berjarak beberapa kilometer dari kawah dan merupakan zona merah, justru selamat dari ancaman paling serius itu.

Kikisik merupakan kampung yang terdapat di Desa Gunungsari, Kecamatan Sukaratu. Wilayahnya meliputi beberapa perkampungan kecil, di antaranya Talegong, Balimbing, Pasung, Tamiang, Legok Ringgit,  Pasantren (Kikisik Pusat), Kikisik Wetan, Kikisik Caringin, dan Kampung Kudang.

Secara perhitungan, daerah-daerah yang dikategorikan sebagai zona bahaya 1 merupakan daerah yang diangap paling berbahaya. Masyarakat yang tinggal di daerah tersebut dianjurkan untuk segera mengevakuasi diri menuju ke tempat-tempat yang dikategorikan aman.

Namun hal itu tidak berlaku bagi Kampung Kikisik. Daerah yang secara perhitungan harusnya habis dilahap lahar, justru malah menjadi tempat paling aman bagi para pengungsi. Masyarakat dari segala penjuru kampung berbondong-bondong datang ke Kikisik untuk mengungsi. Bahkan hewan-hewan, seperti kambing dan kerbau yang entah dari mana asalnya, bergerombol masuk ke Kikisik, Titik pengungsiannya di kompleks Pondok Pesantren Kikisik.

Sekitar tiga hari setelah letusan pertama, lahar mulai mengalir turun dari kawah. Aliran lahar di antaranya melalui sungai Cikunir dan Ciloseh. Saat aliran lahar hendak masuk ke wilayah Kikisik melalui akses Sungai Cibanjaran, lahar tersebut berbelok arah dan terbelah membentuk dua jalur baru di antara Kp. Kikisik.

Adalah Ajengan Syadili, sesepuh Pondok Pesantren Kikisik, sosok di balik peristiwa di luar nalar itu. Ma’mun bercerita, suatu ketika ia menyaksikan Ajengan Syadili mendatangi tempat di mana datangnya aliran lahar. Saat lahar meluap dan hendak masuk ke kampungnya, ajengan menyibakkan sehelai kain, lalu mengarahkannya ke utara dan selatan. Di luar dugaan, lahar yang hendak membanjiri Kikisik itu seketika berbelok arah mengikuti arah kain yang disibakan.

Hal senada diceritakan oleh Kusnadi, anak bungsu Ajengan Syadili. Ia bercerita, suatu ketika saat ada berita lahar akan turun, ia diperintah oleh sang ayah untuk pergi ke tempat aliran lahar. Sebelum pergi, Kusnadi dibekali tiga buah batu kecil untuk dilemparkan ke beberapa titik di sekitar aliran lahar.

Berangkatlah ia dengan  membawa batu pemberian ayahnya. Sesampainya di tempat tujuan, tidak lama setelah itu, datanglah lahar bak air bah ke sekitar tempat Kusnadi berdiri. Lalu saat aliran lahar itu mengarah kepadanya, Kusnadi melamparkan tiga batu tersebut ke titik yang telah ditentukan. Lagi-lagi secara mengejutkan, aliran lahar tersebut berbelok mengikuti batu yang dilemparkan Kusnadi.

Akses utama distribusi lahar ke Kp. Kikisik salah satunya melalui sungai Cibanjaran. Untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan, Ajengan Syadili membuat tanggul untuk menghadang terjangan lahar di sungai Cibanjaran.

Tanggul itu dibuat dari beberapa bilah bambu  dan oleh pelapah kelapa (barangbang, Sunda). Berkat tanggul tersebut, sungai Cibanjaran tidak teraliri oleh lahar. Tanggul yang dibuat oleh Ajengan Syadili itu bisa menahan derasnya terjangan lahar.

Di sepanjang masa erupsi, Pondok Pesantren Kikisik selalu menjadi tempat berlindung bagi warga sekitar. Pascaletusan, masyarakat Kikisik sibuk membersihkan pasir-pasir yang menimbun rumah mereka. Ajengan Syadili lantas mengajak warga untuk bergotong royong mengumpulkan pasir-pasir yang akan digunakan merenovasi masjid pesantren. [Irfal Mujaffar]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?