Inspirasi

Kisah Galunggung Keluar dari Kepungan Utang Miliaran Rupiah

initasik.com, inspirasi | Galunggung, pemilik perusahaan pakaian di Bandung, sebelumnya tidak pernah menyangka kalau usahanya yang dirintis sejak 2005 akan terkena badai finansial. Ia merasa usahanya baik-baik saja.

Omzet pertahun mencapai Rp 43 miliar. Total karyawan ada 180 orang. Namun, pada kisaran 2013, ia dibuat kaget dengan menumpuknya utang di bank. Nominalnya miliaran rupiah. Utangnya ke bank dan rentenir mencapai Rp 11,85 miliar.

“Sebenarnya, di tiga tahun pertama merintis usaha, saya tidak pernah berhubungan dengan bank,” ujar Galunggung kepada initasik.com, di waktu istirahat mengisi materi dalam workshop How to Debt Free yang digelar Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) Tasikmalaya, di salah satu hotel, Ahad, 24 Desember 2017.

Ia menceritakan, awal mulanya berhubungan dengan bank setelah ditawari pinjaman Rp 40 juta. Semula, itu ditolak. Tapi, karena pihak bank tidak putus asa menawarkan pinjaman, akhirnya diterima juga.

“Waktu itu sebetulnya saya tidak butuh uang. Usaha sedang berjalan baik. Tapi akhirnya tawaran itu saya terima juga. Efek dari riba salah satunya memberi candu. Ketagihan. Saya jadi ketergantungan kepada bank. Malah, saya tidak butuh kartu kredit, karena terus-terusan ditawari dan waktu itu tidak paham ilmunya, saya terima juga. Saya sampai punya 33 kartu kredit,” tuturnya.

Berawal dari sanalah ia akhirnya mempunyai utang Rp 11,85 miliar. Setelah bergabung dengan IIBF, Galunggung mendapat pencerahan. Pola bisnis yang selama ini dijalaninya ternyata salah, termasuk keputusannya berhubungan dengan bank.

Perlahan ia bangkit. Selain memperbaiki pola usaha dan menjauhi riba, ia mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukan hanya menjalankan kewajiban, tapi juga membiasakan amalan-amalan sunah. Iman diperkuat, strategi bisnis dipertajam.

Utang-utangnya ke bank dilunasi dengan cara negosiasi. Ia meminta untuk membayar pokoknya saja, tanpa bunga pinjaman. Kini, utangnya tersebut tinggal menyisakan ratusan juta rupiah.

“Kita tidak boleh menghindari utang. Itu tetap harus dibayar. Tapi kita nego untuk bayar pokoknya saja dan diberi tempo lama. Kepada para pengusaha pemula, jangan pernah pakai utang dalam mengawali usaha. Pakai uang sendiri, kalau tidak bersinergi,” sarannya. [Jay]