Komunitas

Komunitas Ngejah; Meretas Mimpi Anak-anak dengan Buku

Kabupaten Tasik | Di saat yang lain baru bergerak setelah dapat bantuan anggaran dari pemerintah, Opik beda. Pendiri Komunitas Ngejah itu merogoh sakunya sendiri untuk mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Kp. Sukawangi, Singajaya, Kabupaten Garut.

“Saya terpanggil untuk melakukan sesuatu. Kalau bicaranya lingkup kabupaten, kesannya terlalu luas. Tapi, saya harus berbuat sesuatu yang bisa bermanfaat minimal untuk diri dan keluarga,” katanya saat berbincang dengan initasik.com di depan kantor bupati Tasikmalaya, beberapa waktu lalu.

Perlahan namun pasti, TBM yang didirikan pada 2010 itu terus bergerak hingga sekarang. Namanya pun sudah dikenal luas. Bukan saja di seputar kampung dan sekitarnya, tapi menembus hingga seantero nusantara.

Beberapa penghargaan pun telah didapat. Beberapa di antaranya adalah Nugrajasa Dharma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional, Pelopor Pemberdaya Masyarakat dari gubernur Jawa Barat, TBM Kreatif Rekreatif dari Kemendikbud, Anugerah Peduli Pendidikan dan lain-lain. Kini, ia dipercaya menjadi Ketua Forum TBM Jawa Barat.

Putra ketiga dari lima bersaudara dari pasangan suami-istri Maman dan Eras itu tak menyangka kalau kepeduliannya dalam membangun lembur bakal direspons seperti itu. Sejak awal, ia bergerak bukan untuk mencari untung. Malah, pendapatannya dari gaji sebagai PNS digunakan membangun Komunitas Ngejah. Uang Rp 500 ribu tiap bulan dikeluarkan untuk membayar relawan. Belum untuk keperluan lain.

Pria kelahiran 15 Juli 1983 yang punya nama udara Nero Topik Abdillah itu memiliki segudang agenda untuk membangun mimpi anak-anak melalui buku bacaan. Misalnya program gerakan kampung membaca.

Setiap Sabtu atau Minggu, ia dan rekan-rekan relawan mendatangi kampung-kampung terluar di Garut Selatan dan Kabupaten Tasikmalaya Selatan, seperti Bojonggambir. Mereka mengajak bermain anak-anak dan warga yang didatangi, kemudian berbagi ilmu tentang pentingnya membaca buku.

Kampung-kampung yang sudah didatangi itu kemudian dibuatkan pojok baca. Komunitas Ngejah memberi rak beserta bukunya. Rata-rata satu pojok baca diberi 150 buku s.d. 300 buku. “Kebanyakan yang kita ajak kerja sama itu guru ngaji yang mau jadi relawan pojok baca itu, atau kita simpan di posyandu, pangkalan ojeg dan tempat lainnya. Sekarang sudah ada 26 pojok baca,” tutur guru SDN Cikuya 2 Culamega, Kabupaten Tasikmalaya, itu.

Ditanya dari mana uang untuk membiayai gerakan kampung membaca itu, Opik mengaku pakai uang pribadi. Mimpinya, ia ingin anak-anak di negeri ini punya mimpi. “Dengan membaca, banyak manfaat yang didapat. Salah satunya mimpi. Sekarang, anak-anak di kampung cita-citanya beragam. Tak hanya jadi dokter atau presiden. Dengan membaca mereka jadi tahu banyak profesi, seperti jurnalis, arsitek, astronot dan lainnya. Di Komunitas Ngejah kita berusaha membangun mimpi mereka lewat buku bacaaan,” paparnya. initasik.com|shan

Komentari

komentar

Komentari

Komentari