Peristiwa

Konsep Penertiban Pasar Kojengkang Amburadul

Kota Tasik | Penertiban pedagang kojengkang di area olahraga Dadaha, Kota Tasikmalaya, bukan hanya membuat para pedagang bertanya-tanya bagaimana nasib mereka ke depan, tapi juga ada persoalan lain yang mendasar.

“Idealnya begini. Jangan dulu action ke lapangan. Buat rencana yang matang oleh Indag (Dinas Koperasi UMKM dan Perindag),” ujar Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kota Tasikmalaya, Asep M Permana, di sela pemantauan pedagang kojengkang yang kini menggelar lapak di seputaran GOR Dadaha, Minggu, 6 Desember 2015.

Ungkapan itu ia lontarkan saat ditanya rencana selanjutnya setelah kojengkang di lingkar Dadaha ditutup. Menurutnya, tugas instansi yang dinakhodainya adalah penegakan perda dan kebijakan lain. Terkait langkah apalagi setelah ditutup, pihaknya hanya menindaklanjuti tupoksi dari OPD teknis, yaitu Dinas Koperasi UMKM dan Perindag dan Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Kebersihan.

Seharusnya, sambung dia, sebelum dilakukan penutupan, Indag mempunyai konsep yang jelas dari awal sampai akhir. Setelah ditutup, lalu harus bagaimana? “Salah satu solusi alternatif, misalnya direlokasi. Untuk relokasi itu harus disiapkan, dan yang menyiapkannya adalah Cipta Karya (Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Kebersihan),” tutur Asep.

Disinggung soal koordinasi antarOPD, ia menjawab, “Kalau ada koordinasi, seharusnya mereka ada di sini (Dadaha).”

Ia melanjutkan, “Ini teh tugas batur, saya hanya menindaklanjuti OPD lain. Tapi mau menindaklanjuti bagaimana, OPD teknisna ge teu boga program. Kalau programnya jelas, maka outputnya pun akan jelas.”

Terpisah, Kepala Dinas Koperasi UMKM dan Perindag Kota Tasikmalaya, Tantan Rustandi, menjelaskan, penutupan pasar kojengkang di lingkar Dadaha adalah upaya mengembalikan fasilitas umum kepada fungsinya. “Apalagi kita tahun depan akan ada MTQ yang perlu dijaga kekhidmatannya,” ujarnya di sela karnaval Tasikmalaya Creative Festival di halaman Setda lama.

Ditanya apakah ada rencana relokasi, ia mengatakan, pihaknya sudah membidik lapang di dekat Taman Dadaha. “Kita relokasikan ke tempat tertentu, tetapi itu disesuaikan dengan kapasitas ruang yang ada. Pemkot tidak punya ruang yang leluasa,” imbuhnya.

Menurutnya, penanganan PKL merupakan ujian kekompakan OPD-OPD terkait. “Penataan pasar kojengkang ini dilakukan pada saat kita sedang melakukan penyerapan anggaran. Kegiatan di sana-sini tetap harus sukses. Mungkin saja ada miskomunikasi, tapi kita sepakat penataan PKL harus diatasi bersama,” tutur Tantan.

Sementara itu, Tini Martini, pedagang keset asal Purbaratu, terpaksa jualan di tempat yang langsung terkena sinar matahari, karena di depan GOR Dadaha tidak kebagian tempat yang nyaman. “Waktos di palih ditu mah (lingkar Dadaha) raos. Aya iuh-iuh tatangkalan,” katanya.

Indra, penjual topi, mengaku bingung dengan kondisi saat ini. Untuk dapat tempat di sekitar GOR, harus berangkat sejak pukul dua dini hari. “Di dieu mah tempatna parebut jeng tukang parkir deuih,” ucapnya. initasik.com|shan

Komentari

komentar