Jay | initasik.com
Ekbis

Kopyor Galunggung, Perintis Usaha Kopyor di Kota Tasikmalaya

initasik.com, ekbis | Kopyor dan Ramadan seolah tidak bisa dipisahkan. Saat Ramadan datang, kopyor tak mau ketinggalan. Ia selalu hadir. Ada di mana-mana. Pedagangnya berderet. Berselang-seling. Terhalang satu-dua pedagang lain. Saling saingan.

Di Alun-alun Kota Tasikmalaya dan sekitarnya saja ada lebih dari sepuluh penjual kudapan manis berbahan dasar kelapa muda itu. Jumlahnya sampai 15 orang. Itu belum dihitung dengan titik-titik lain.

Salah satu kopyor yang melegenda di Kota Tasikmalaya adalah Kopyor Galunggung. Entis Sutisna, keluarga pembuat Kopyor Galunggung, menyebutkan, usaha itu sudah dirintis sejak 1992. Sampai sekarang masih bertahan, meski dari waktu ke waktu pesaing bermunculan.

“Kalau di Tasik mah kita perintis. Di dalam kopyor itu apa saja, kita yang buat. Yang pertama bikin itu kakak saya, kemudian didukung sama keluarga. Sampai sekarang digarap keluarga,” sebut Entis.

Perlu waktu sekitar empat tahun untuk mengenalkan produk itu. Pada 1996 baru terasa hasilnya. Masyarakat merespons bagus. Saat ini, dalam sehari ia dan keluarganya bisa membuat 1.000 bungkus kopyor. Sebagian dijual sendiri, sebagian lagi dijual orang lain. Sedikitnya ia punya 20 pedagang yang mengambil barang darinya.

“Kalau eceran saya jual Rp 7.500. Tapi kalau yang ambil untuk dijual lagi, dari sininya Rp 6.500 per bungkus. Ada yang jualan di trotoar, pakai sepeda, ada juga yang pakai motor,” ujarnya saat berbincang dengan initasik.com, di lapak jualannya, Jl. Galunggung, Tawang.

Baca: Kopyor, Kudapan yang Hanya Meraja di Bulan Ramadan

Bagusnya respons masyarakat terhadap Kopyor Galunggung telah melahirkan pesaing. Salah satunya Kopyor Bojong Ibu Enih. Sejak lima tahun lalu, Enih membuat kopyor untuk didagangkan suaminya, Endang Ijan.

Warga Bojong Tritura, Panglayungan, Kecamatan Cipedes, itu mengaku, sebelumnya Endang jualan Kopyor Galunggung. Setelah terlihat laku, ia inisiatif membuat sendiri. Laku juga. Namun, tahun ini penjualannya menurun. Di Bojong, banyak juga yang membuat dan jualan kopyor.

“Sekarang ada 13 roda yang jualan kopyor di sini. Tapi karena banyak saingan dan cuacanya sering hujan, banyak yang balik barang. Dibanding tahun kemarin jauh sekali. Sekarang parah,” sebut Enih saat ditemui di rumahnya. [Jay]