Jay | initasik.com
Ekbis

Kopyor, Kudapan yang Hanya Meraja di Bulan Ramadan


initasik.com, ekbis | Pernahkah terlintas tanya, kenapa kopyor hanya ada di bulan Ramadan? Penjualnya pun di mana-mana. Di Alun-alun Kota Tasikmalaya dan sekitarnya saja ada lebih dari sepuluh penjual kudapan manis berbahan dasar kelapa muda itu.

Jumlahnya sampai 15 orang. Itu belum dihitung dengan titik-titik lain. Dibanding pedagang lain, jumlah mereka lebih banyak. Dalam satu barisan pedagang kaki lima, mereka terselip di antaranya.

Bukan hanya satu dua, tapi lebih dari tiga, malah sampai lima. Selain tukang kopyor, tidak ada pedagang makanan yang dalam satu jalur jumlahnya banyak. Terhalang beberapa roda, ada penjual kopyor. Ke sananya ada lagi.

Ternyata mereka pedagang musiman. Sehari-harinya ada yang jualan es cincau, goyobod, pegawai pabrik, sampai ema-ema. Khusus di Ramadan, mereka memilih jualan kopyor. “Laku. Uangnya juga lebih gede,” ujar Engkos, pedagang kopyor yang mangkal di Jl. Otto Iskandardinata.

Sehari-hari ia mengaku jualan es cincau. Namun, sudah empat Ramadan, cincaunya ditinggal sementara. Engkos memilih kopyor. Labanya lebih besar. Wajar saja. Ia jualan modalnya cuma tenaga, plus roda yang biasa dipakai jualan cincau.

“Sehari bisa habis 40 bungkus,” jawabnya saat ditanya omzet. Sebungkus dijual Rp 6.000. Dari sananya Rp 4.000. Dapat Rp 80.000 itu bersih. Soalnya, barang yang tidak habis bisa dikembalikan. Praktis, ia tidak mengeluarkan modal.

Yudi Jamaludin, pedagang lainnya, memilih jualan kopyor, karena uangnya lebih menjanjikan. Sehari-hari ia bekerja di pabrik sandal. Lantaran sorenya jualan kopyor, pekerjaan sandalnya digeser ke malam.

Kalau lagi bagus, sehari ia mengaku bisa habis 100 bungkus. Harga jualanya lebih malah dibanding Engkos. Satu bungkus Rp 7.000. “Pernah jualan di luar bulan Ramadan, tapi tidak laku,” sebutnya.

Terpisah, Entis Sutisna, pembuat Kopyor Galunggung, menyebutkan, di Ramadan ini, dalam sehari ia dan keluarganya bisa membuat 1.000 bungkus kopyor. Sebagian dijual sendiri, sebagian lagi dijual orang lain. Sedikitnya ia punya 20 pedagang yang mengambil barang darinya.

“Kalau eceran saya jual Rp 7.500. Tapi kalau yang ambil untuk dijual lagi, dari sininya Rp 6.500 per bungkus. Ada yang jualan di trotoar, pakai sepeda, ada juga yang pakai motor,” sebut Entis seraya menambahkan, Kopyor Galunggung merupakan usaha keluarga yang dirintis sejak 1992.

Selain Kopyor Galunggung, nama lain yang melekat dengan nama itu adalah Bojong. Kopyor Bojong. Ada juga Kopyo seladarma dan yang tanpa nama. Namun, yang meraja di antara itu adalah Kopyor Galunggung dan Kopyor Bojong. Keduanya mudah ditemui di sepanjang jalan, terutama seputaran Alun-alun Kota Tasikmalaya.

Entis mengatakan, kopyor buatannya biasa laku hanya di Ramadan. Di luar itu sepi, kecuali kalau ada pesanan. Begitupun pengakuan Engkos dan Yudi. Mereka tidak bisa menjual kopyor di luar Ramadan, karena pembelinya tidak ada. [Jay]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?