Peristiwa

Kota Santri Diserang Pasar Modern

Kota | Kota boleh kecil, tapi soal gaya tak mau kerdil. Kalimat itu sepertinya tidak berlebihan jika disematkan pada kondisi Kota Tasikmalaya saat ini. Pasalnya, kendati termasuk kota kecil, tak kurang dari sembilan pusat perbelanjaan telah berdiri gagah di banyak titik. Bukan itu saja. Mini market pun sudah meruyak di tiap kecamatan.

Pembantu Rektor I Unsil, Prof. Deden Mulyana, menyayangkan kondisi seperti itu. “Saya pikir, jika melihat jumlah penduduk dan luas wilayah, Kota Tasikmalaya tak perlu lagi menambah pasar modern,” tandasnya.

Seharusnya, kata Prof, keberadaan pasar modern di kota ini mesti ada pembatasan. Soalnya, ada sisi lain yang harus juga diperhatikan, yaitu para pedagang tradisional. “Jangan sampai mereka mati perlahan,” tandas Prof.

Hal senada disampaikan Ecky Soeriawidjaja, dosen ekonomi Unsil. Menurutnya, kalau dibenturkan dengan permasalahan sosial, munculnya pasar modern jelas bertentangan dengan konsep pasar tradisional. “Agar tidak kalah oleh pasar modern, PD Pasar Resik harus menata pasar tradisional,” ujarnya.

Eki menegaskan, jika pihak terkait tidak bisa menata pasar tradisional, lambat laun keberadaan pasar tradisional akan mengalami mati suri. “Pasar tradisional harus bersaing dari soal harga, kualitas barang, dan pelayanan. Itu tantangan buat PD Pasar Resik. Bisa tidak membuat pasar tradisional menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan bagi para pembeli?” tandasnya.

Kalau pemerintah tidak bisa menata pasar tradisional, lanjut Eki, semestinya jangan dulu mengeluarkan izin untuk penambahan pasar modern.

Di sisi lain, Deden dan Eki memandang satu nilai positif dari bertambahnya pusat perbelanjaan modern di kota ini. Mereka satu suara soal terbukanya lapangan kerja baru. “Tapi, jangan sampai orang Tasik kahieuman bangkong. Rekrutasi tenaga kerja lokal harus menjadi prioritas,” sebut Deden.

Deden menduga, diizinkannya pendirian mal baru di kota ini terkait dengan visi Kota Tasikmalaya, yakni menjadi pusat perdagangan dan industri termaju di Priangan Timur. Kendati begitu, ia memandang tak semudah itu. Soalnya, uang yang dikeruk dari transaksi di pasar modern acap terbang ke luar kota, lantaran sang pemilik modal merupakan orang “asing”. “Sebaiknya pemerintah lebih menggenjot potensi lokal, ketimbang memberi ruang yang luas bagi pengusaha-pengusaha luar Tasik untuk mengeruk keuntungan dari kota ini. Akan jauh lebih bagus potensi yang ada lebih diarahkan dan dikembangkan,” saran Deden.

Terpisah, Himpunan Pedagang Pasar Tasikmalaya (Hippatas) lantang menolak keberadaan mal dan pasar modern lainnya. Sekretaris Hippatas, Yana, mengkhawatirkan, akan ada ribuan pedagang tradisional di Tasikmalaya yang roda ekonominya mati.

Menurutnya, para pedagang tradisional sudah terusik oleh menjamurnya pasar modern sejenis mini market. Sekarang, kondisinya diperparah dengan banyaknya mal. Dalam catatannya, saat ini ada 44 minimarket yang tersebar di Kota Tasikmalaya. initasik|ashani

Komentari

komentar