Jay | initasik.com
Seni Budaya

Kreativitas Angklung Tong dan Wajah Cemong yang Bermuara di Wadah Sampah

initasik.com, seni budaya | Pernah melihat penampilan para pemain angklung tong yang mukanya dibuat cemong? Setiap kali mengamen, muka mereka pasti diberi bedak dan gambar macam-macam. Gaya-gayanya seperti meniru Ateng, Iskak dan rekan-rekannya dalam Ria Jenaka yang dulu tayang di TVRI.

Ternyata itu ada ceritanya. Eko Herdianto, salah seorang anggota Angklung Grup Batara, menjelaskan, muka mereka digambar rupa-rupa itu semula untuk menakut-takuti anak-anak. Saat tampil, mereka sering “diganggu” anak-anak. Ikut memukul alat-alat yang dibawa. Kacaulah nadanya.

“Tapi anak-anak bukannya takut, malah tambah senang,” ujar Eko saat diwawancara initasik.com di sela ngamen di arena waktu bebas kendaraan bermotor, di Jl. KHZ Musthafa, Kota Tasikmalaya, Ahad, 14 Mei 2017.

Melihat responsnya seperti itu, akhirnya dibuat jadi ciri khas. Setiap mengamen, muka mereka pasti digambar. Tak terkecuali. Pemain dan pengumpul uang dibedaki. Bagus juga kelihatannya. Unik dan lain dari yang lain.

Selain membuat wajah cemong, kreativitas mereka lainnya adalah melahirkan nada-nada yang enak didengar. Mengaransemen lagu-lagu dengan alat musik sederhana. Hanya angklung dan tong. Maka disebutlah angklung tong.

Angklung itu telah dikreasi sedemikian rupa, sehingga bisa nyaman saat dibawa jalan. Begitupun tongnya. Itu adalah semacam ember yang dipasangi karet. Jumlahnya lebih dari satu. Suaranya dominan bass.

Di Tasik, grup angklung tong bukan hanya satu. Ada empat. Tidak dalam satu manajemen, tapi saling kenal. Mereka tidak hanya mengamen di Kota Tasikmalaya, tapi juga di kota lainnya. “Sekarang yang tiga lagi sedang di Bandung. Saya juga sering main di Bandung,” sebut Eko.

Menurutnya, angklung tong masuk ke Tasik sudah terbilang lama. Sejak beberapa tahun lalu. Asalnya dari Cilacap, Jawa Tengah. Mereka berkelompok. Sekitar lima sampai delapan orang. Tugasnya beda-beda. Ada yang memainkan alat musik, ada juga yang mengumpulkan uang.

Uniknya, uang itu dimasukkan ke tempat sampah. Kreativitas itu bermuara di wadah sampah yang diasongkan kepada siapa saja yang ada di sekitar mereka. Kalau pengamen lain biasanya pakai topi, plastik bekas bungkus ciki, atau cukup dengan telapak tangan. Nampan.

 

Eko tidak menyebut berapa penghasilan ia dan rekan-rekannya dalam sehari. “Kalau disewa, per jamnya Rp 500 ribu. Tapi kalau hitungannya harian, ditawarkan Rp 2,5 juta. Biasanya kami sering diminta main untuk meramaikan pawai. Kalau mau pakai jasa kami boleh menghubungi nomor telepon 08986155711,” sebutnya berpromosi. [Jay]

Komentari

komentar