Seni Budaya

Kritikan Sosial dalam Festival Monolog pra- Lanjong Art Festival

initasik.com, seni budaya | Pria bercelana putih tanpa memakai baju muncul dari dalam roda. Sambil membaca koran, ia mengutarakan kegelisahannya. “Bantuan untuk bencana alam menjadi bisnis menggiurkan. LSM semakin mirip perusahaan,” ujarnya dalam festival monolog pra-Lanjong Art Festival (LAF) LAF, di Gedung Kesenian Kota Tasikmalaya.

Ia kemudian membacakan kembali naskah monolog Berusaha Melawan Lupa karya Acep Zamzam Noor. “Partai-partai baru tak bisa diharapkan, apalagi partai-partai lama.”

AB Asmarandana, salah satu dewan juri, mengatakan, pihaknya mengadaptasi naskah tersebut dari essai menjadi naskah drama. Menurutnya, naskah tersebut diangkat, karena sudah sangat lelah dengan berita-berita dan sebagainya yang ditimpa-timpa terus, sehingga tidak sempat memikirkan apa-apa.

“Kita sudah dibombardir dengan televisi. Informasi sudah sangat hirup-pikuk, cepat sekali masuk ke kepala, tidak sempat dipikirkan, besoknya sudah ada info baru, dan itu terus terjadi dan terulang. Essainya pak Acep ini terasa mewakilinya. Cukup mewakili kegelisahan kita,” tuturnya.

Mimi Nuryanti, Direktur Lanjong Art Festival, menjelaskan, festival monolog pra-LAF diselenggarakan bukan hanya di Tasikmalaya, tapi juga di Yogyakarta, Solo dan masih banyak lagi.

Pra LAF merupakan kegiatan kuratorial bagi seniman-seniman yang ingin berkompetisi di LAF, Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Hal itu dilakukan berdasarkan penelitian di 2015, sebagai upaya untuk membangun jejaring yang lebih berkualitas.

“Kami mengajak teman-teman di kantung-kantung kesenian yang coba kita libatkan untuk membuat kurasi dulu, salah satunya di Tasikmalaya ini, sehingga secara kekaryaan kita bisa cari potensi yang kuat untuk dimunculkan di LAF nanti,” jelasnya.

Dia menerangkan, LAF merupakan agenda dua tahun sekali yang sudah berjalan selama 10 tahun. Tahun ini merupakan yang kelima. Acara tersebut berskala nasional dan internasional. Adapun konten acaranya terdiri dari dua hal. Pertama, festival kegiatan pertunjukan yang dikompetensikan, di antaranya festival tari kontemporer, festival monolog, dan festival musikalisasi puisi. Kedua, konten acaranya eksibisi, yaitu sharing pertunjukan dan workshop.

“Mereka yang menang di pra-LAF ini akan diberangkatkan ke Tenggarong. Yang sudah terkurasi ada dari Aceh, Banten, Solo, Yogyakarta, Parigi Sulawesi Selatan, Makasar Kalimantan Selatan, dan Banjarmasin. Luar negerinya dari Jepang, Taiwan, Argentina, Malasyia, Belanda, Polandia, Belgia, dan Italia. Dari Tasikmalaya itu bukan hanya kontingen festival monolog saja, tapi festival musikalisasi puisi juga, namun untuk kurasinya langsung sama dewan kesenian,” paparnya. [Syaepul]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?